Juni 2017 - kangzainfuad.com

Sabtu, 17 Juni 2017

MUHASABAH PERJUANGAN

MUHASABAH PERJUANGAN


NU sebagai organisasi tidak lahir begitu saja, hadirnya bukan karena urusan politik atau pesanan penguasa kala itu.

Namun, Hadirnya NU adalah adanya rasa prihatin para 'Alim 'ulama Nusantara melihat keadaan amaliyah Aswaja yang semakin terkikis oleh faham yang menyimpang dari AQIDAH ahlus Sunnah Waljama'ah.

Hadirnya NU Tidak serta merta dibuat karena kepentingan pribadi untuk memenuhi ego (nafsu) individu. Namun NU hadir dan dilahirkan dari hasil Istokhoro, Riyadho, tirakat dan mujahadah para 'alim 'ulama agar apa yang akan diperjuangkan oleh NU tidak hanya semata atas dasar kepentingan duniawi tapi demi keseimbangan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi yang sesuai dengan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. dalam satu wadah perjuangan ASWAJA AN-NAHDLIYAH.

Dengan proses yang begitu panjang dirintis mulai dari zaman para wali songo dan dilembagakan secara modern melalui organisasi (Jam'iyah)  NU tentu bukan sembarangan orang yang ada didalamnya.

Jika saat ini banyak yang "keluar" dari jam'iyah NU dengan alasan apapun itu pertanda Seleksi ALAM. Mereka tidak paham dan akhirnya tersesat dalam jurang kebodohan dan persepsi yang didasari oleh Nafsu semata.

Maka bersyukurlah bagi mereka yang tetap Istiqomah bernaung dan berjuang dibawah komando para 'Alim 'ulama An-Nahdliyah,
Dan Senantiasa setia dan ta'at pada NU siapapun pengurusnya.

Kita pasrahkan perjuangan ini hanya kepada Allah swt semata, demi tegaknya Islam dan NEGARA yang aman tentram dalam satu bendera NKRI.

SEMOGA ALLAH SWT MERIDLOI.

#HWMI

Kamis, 15 Juni 2017

HIKMAH ILMU TASAWUF

HIKMAH ILMU TASAWUF


Menjalankan amal Ibadah (syariah) bagi kita sebagai hamba yang selalu LAPAR dan HAUS akan nikmatnya duniawi bagaikn makanan pokok yang senantiasa dibutuhkan oleh tubuh.

Rasa Lapar dan Haus itu membuat manusia SERAKAH dan MEMAKAN HABIS setiap apa yang dihidangkan, tanpa adanya SELEKSI diri, akhirnya manusia melahap semua menu duniawi tanpa memperhatikan RASA, nikmat atau tidak urusan belakang yang penting KENYANG.

Begitulah ibarat orang yang beribadah tanpa dilandasi Tasawuf.

Ilmu Tasawuf mengajarkan kita ILMU RASA, merasakan berbagai menu duniawi.

Nikmat dan tidaknya menjalani amal ibadah akan bisa kita rasakan.

Nikmatnya beribadah tidak hanya kita rasakan ketika (proses) beribadah, namun nikmatnya IBADAH itupun dapat kita rasakan (setelah beribadah) dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi pengamal ilmu Tasawuf, kenikmatan yang LUAR BIASA ketika beribadah taqarub ilallah (mendekatkan diri)  serasa berdialog secara langsung, Nikmat. Kenikmatan itu tak akan mampu dirasakan oleh mereka yang tidak pernah mengamalkan apalagi mempelajari ilmu tasawuf.

Wujud nyata kenikmatan itu, akan tampak dalam tutur kata dan perilaku yang menyejukkan. Keindahan wajahnya seakan memancarkan cahaya, cahaya kedamaian.
Tutur katanya menebarkan wangi kenikmatan surga.

Setiap orang memandangnya, akan mengingat mereka pada Allah swt. dengan dzikrullah.

Itulah sedikit gambaran para pengamal tasawuf.

Semog kita senantiasa didekatkan dengan para 'Alim 'ulama 'Arif billah, para kekasih Allah swt.

Bagi secara Sirr maupun dhohir.

Semoga Setiap langkah kita senantiasa mampu mendekatkan hati kita mencintai Allah swt, menggapai Ridlo Allah swt.

اللهم انت مقصودي ورضاك مطلوب اعطني محبتك و معرفتك

#HWMI
#Ramadlan Mubarak.

Sabtu, 03 Juni 2017

Empati

Allah swt membentangkan ilmu-Nya di Alam semesta ini sebagai bekal Makhluq-Nya menghadapi tantangan kehidupan yang akhirnya, dengan Ilmu-Nya makhluq itu mampu merawat alam semesta sesuai dengan kemampuan menyerap ilmu.

Hewan, mampu menyerap ilmu-Nya dengan bekal INSTING yang dikaruniakan kepadanya.

Bagi Hewan, tidak membutuhkan sekolah untuk memperoleh ilmu-Nya. Cukup menjalankan naluri "pengetahuan" ia mampu membuat Rumah (sarang), teknik terbang, renang, dll.

Begitupula manusia, tidak harus bersekolah manusia menyerap sebagaian kecil ilmu-Nya.

Terkadang Allah Swt menanamkan Pengetahuan-Nya kepada manusia melalui berbagai ujian, ujian kehidupan.

Bagi hamba yang sabar,Allah akan memberikan ilmu hikmah yang tersimpan dalam berbagai peristiwa kehidupan.

Bagi hamba yang mengamalkan dengan istiqomah ilmu yang sudah diperoleh, maka Allah akan mengkaruniakan ilmu Ladunni, Ilmu yg langsung berumber dari Allah swt. Begitulah Imam Ghazali menyampaikan goresan ilmunya dalam Ihya 'Ulumudin.

Anakku.
Apa yang engkau alami, ayahpun merasakan bagaimana tingkatan demi tingkatan Allah swt meneteskan Ilmu pengetahuan padamu.

Dikala kecil,
engkau mendapati Ilmu dari Allah swt bagaimana cara berjalan, bicara dan memperoleh pengetahuan tentang nama-nama benda disekitar rumah.

Ayah ingat,
setiap fase ilmu yang akan engkau peroleh itu, engkau sering sakit terlebih dahulu. Demam tinggi...

Setelah demam itu reda, senyum manismu mengembang. Disitulah ada ilmu baru yang kau peroleh..

Sebagaimana beberapa hari ini,
engkau sakit...panas tinggi... Sampai-sampai air mata bundamu tak terbendung...
Rintihanmu membuat ayahpun iba merasakan apa yang engkau rasakan.

Namun, siang ini.
Ayah bangga melihat senyumu..
Terharu melihat "ilmu baru" yang engkau peroleh.

Empati...

Empati itu tumbuh dalam dirimu yang selama ini belum pernah ayah temukan dalam kepribadianmu.

Dikala ayah lelah dan lengah, engkau menutup pintu walau tanpa disuruh.

Dikala siang,
kebiasaan ayah memberikan makan ikan. Engkau melihat keadaan ayah yang tidak mungkin melakukanya, engkau tanggap dan membantu ayah memberikan makan ikan.

"Ayah....nanti luthfi ya yang ngasi makan ikan. Luthfi sholat dhuhur dulu."
.
Subhaanallah...
Ini mungkin bagi orang lain adalah hal kecil dan remeh.
Namun bagi ayah, ini yang perlu disyukuri, sebagai washilah sebuah keberkahan.
.
semoga rasa sakit yang beberapa hari ini engkau rasakan pertanda munculnya ilmu baru dari Allah swt, ilmu yang mampu engkau resapi, terima, amalkan dan  menjadikanmu menjadi anak yang lebih sholih.

#Washoya

Jumat, 02 Juni 2017

DOA BERBUKA PUASA MENURUT SALAFUS SHOLIH

DOA BERBUKA PUASA MENURUT SALAFUS SHOLIH


Menjelang datangnya bukan Romadhon, mulai banyak beredar BC (Broadcast) terkait dengan lafadz doa berbuka puasa.

Ada kalangan menganggap doa tersebut riwayatnya dhoif, bahkan mereka pun berani berkata bahwa lafadz doa berbuka tersebut tidak ada asalnya.

Apakh benar demikian ?Berikut adalah penjelasan tentang hadits tersebut :

Ada hadits yang meriwayatkan bahwa Rasulullah juga berdo’a dengan do’a yang sebagian lafadznya seperti di atas:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ حُصَيْنٍ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ، أَنَّهُ بَلَغَهُ ” أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: «اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ»
Sesungguhnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
ketika berbuka membaca doa: *Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu* (HR. Abu Dawud, diriwayatkan juga oleh Al Baihaqi, Ath Thabarany, Ibnu Abi Syaibah)

Namun dalam catatan kaki Kitab Jâmi’ul Ushul, karya Ibnul Atsir (w. 606 H), dengan tahqiq Abdul Qadir Arna’uth dan disempurnakan Basyir ‘Uyûn, Maktabah Dârul Bayân, juz 6 hal.378 dinyatakan:

رقم (2358) في الصوم، باب القول عند الإفطار، مرسلاً، ولكن للحديث شواهد يقوى بها.
Nomor (2358) dalam (kitab) Puasa, bab perkataan saat berbuka, mursal, akan tetapi hadits ini memiliki syawâhid yang memperkuatnya.

Berikut beberapa redaksi do’a terkait:

1) Ath Thabarany dalam Mu’jam as Shaghir (2/133):

بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ , وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

2) Ath Thabarany dalam Ad Du’â, hal 286

بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ، تَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

3) Dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (2/344), Ar Rabi’ bin Khutsaim ketika mau berbuka berdo’a:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ

Kaum Muslimin di seluruh dunia termasuk di Indonesia apabila berbuka puasa biasa membaca do’a berikut:

اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَبِك آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللَّهُ .

Artinya: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman dan dengan rizki-Mu aku berbuka. Telah hilang rasa penatku dan basahlah tenggorokanku dan tetaplah pahala dicurahkan atasku, Insya Allah”.

Pembacaan do’a seperti ini – dengan variasi tambahan dan pengurangan – merupakan warisan turun-temurun dari para Ulama Waratsatul Anbiya.

Mereka yang menganjurkan membaca do’a ini adalah para Ahli Hadis dan Fuqaha dari berbagai Madzhab.

Dari Ulama Madzhab Hanafi misalnya kita menemukan penjelasan dari Al Imam Fakhruddin Utsman bin Ali az Zaila’i:

وَمِنْ السُّنَّةِ أَنْ يَقُولَ عِنْدَ الْإِفْطَارِ اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَبِك آمَنْت وَعَلَيْك تَوَكَّلْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت .
Artinya: Di antara Sunnat adalah ketika berbuka puasa dianjurkan mengucapkan: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakkal dan dengan rizki-Mu aku berbuka. (Lihat kitab Tabyinul Haqa’iq Syarah Kanzud Daqa’iq karya Al Imam Az Zaila’i juz 4 halaman 178).

- Dari Ulama Madzhab Maliki antara lain disebutkan dalam Kitab Al Fawakih Ad Dawani Ala Risalah Ibni Abi Zaid Al Qirwani karya Syekh Ahmad bin Ghunaim bin Salim bin Mihna An Nafrawi :

وَيَقُولُ نَدْبًا عِنْدَ الْفِطْرِ : اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْت وَمَا أَخَّرْت ، أَوْ يَقُولُ : اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللَّهُ .

Artinya: Dan Sunnat ketika berbuka puasa mengucapkan: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka. Maka ampunilah dosaku yang lalu dan yang akan datang”. Atau mengucapkan: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka. Telah hilang rasa penatku dan basahlah tenggorokanku dan tetaplah pahala dicurahkan atasku, Insya Allah”. (Lihat pada Juz 3 halaman 386).

- Dari Madzhab Syafi’i antara lain dikemukakan Al Hafizh Al Imam An Nawawi dalam Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab:
والمستحب أن يقول عند إفطاره اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت لما روى أبو هريرة قال " كان رسول الله صلي الله عليه وسلم إذا صام ثم أفطر قال اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَعَلَى رِزْقِك أَفْطَرْت .
Artinya: Dan yang disunnahkan ketika berbuka puasa itu adalah mengucapkan: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka”. Berdasarkan Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW itu apabila berpuasa kemudian berbuka membaca “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan dengan rizki-Mu aku berbuka”. (Lihat Al Majmu’ Juz 6 halaman 363).

 Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa membaca do’a “Allahumma laka Shumtu….” Sebagaimana yang biasa dilakukan Ummat Islam adalah Sunnah. Adapun adanya keterangan sebagian orang yang menilai Hadisnya lemah dapat dijelaskan sebagai berikut:

⭐ *Pertama*, lemahnya sebuah Hadis tidak serta merta terlarang mengamalkannya sebab kelemahan itu hanyalah pada penisbatannya kepada Rasulullah SAW, tidak ada kaitannya dengan boleh-tidaknya dibaca.

☀ *Kedua*, Hadis “Allahumma Laka Shumtu…” sungguhpun dha’if namun ia melengkapi Hadis “Dzahabazh Zhama’u…”. yang yang Hasan itu.

Bentuk kedua ini belum merupakan do’a sebab hanya bentuk berita atau ucapan biasa yang disampaikan Rasulullah SAW saat minum air. Bacaan ini baru menjadi do’a manakala disambungkan dengan kalimat “Allahumma…” yang berarti “Ya Allah”.

💧 *Ketiga*, bacaan do’a tersebut telah diamalkan dan dianjurkan oleh semua Ulama Madzhab Empat Itu artinya membaca “Allahumma laka Shumtu” merupakan kesepakatan Ummat Islam.

Apabila ada orang awam yang melarang membaca “Allahumma Laka Shumtu…” maka orang tersebut dapat dikatakan menyalahi kesepakatan Ummat Islam – tidak ada dalil yang menjadi dasarnya.

Bahkan, sabda Rasulullah SAW di atas menganjurkan kita memilih do’a sesuka kita. Lalu dengan alasan apa orang tersebut melarang membaca do’a “Allahumma Laka Shumtu..” ? Bukankah dengan larangannya itu berarti ia telah membuat Syari’at baru?

Kalau saja membaca do’a yang terdapat dalam Hadis Shahih itu diharamkan, tanyakan kepada orang itu : “Pernahkan anda berdo’a dengan Bahasa Indonesia agar anak anda sukses sekolahnya ? Jika pernah, lalu apakah ada dalilnya bentuk do’a yang anda baca itu?. Lalu bagaimana anda melarang orang membaca do’a yang disepakati Ummat Islam dari dulu hingga sekarang hanya gara-gara “katanya” Hadisnya dha’if ?

Dan afdholnya dalam berdoa adalah dengan dimulai ucapan *Allahumma* atau *Robbana*, tidak ujug-ujug langsung ke *Dzahabadh dhomaa'u.. dst* sebagaimana yang kita pahami dari BC tersebut.

Kita berdoa dengan bahasa yang kita susun sendiri saja boleh kok, apalagi bila mengutip dari hadits dhoif, ya tentu lebih baik.

Monggo manteb saja berbuka puasa dengan doa :

*اللَّهُمَّ لَك صُمْت وَبِك آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللَّهُ*

*SELAMAT MENYAMBUT BULAN MULIA ROMADHON*

_disarikan dari PISS-KTB_

Ad Placement