Agustus 2017 - kangzainfuad.com

Selasa, 15 Agustus 2017

WASHOYA

WASHOYA

Anakku..
Hal kecil yang dapat engkau lakukan adalah berdoa.
Berdoalah tiada jenuh agar hidupmu lebih terarah.
Doa akan menuntunmu menjadi anak yang lebih bermakna dan berkah.
Dengan doalah semua aktivitas dan hasilnya engkau pasrahkan pada Allah swt.
HIKAM

HIKAM

لاتطلب ربك يتأخر مطلبك, ولكن طالب نفسك يتأخر ادبك
Jangan menuntut tuhanmu karena permohonanmu belum terkabulkan,

tuntutlah dirimu sendiri yang kurang sopan.
~ Syaikh Ibnu 'Athoillah Sakandary~
****************
Sahabat,

Bagi seorang hamba yang selalu berbenah,
Penundaan harapan (permohonan) akan karunia Allah swt akan semakin membuat hamba tersebut semakin ikhlas dan menajamkan fokus niatnya hanya tertuju pada-Nya.
Penundaan karunia akan membuat hamba semakin semangat melengkapi kekuranganya dalam beribadah.
Karena ia sadar, munculnya rasa pengharapan yang berlebihan agar setiap harapanya terkabulkan tanda ketidak sopanan pada-Nya.
Wujud sikap sopan pada-Nya dengan meyakini secara total akan setiap keputusan dan ketetapan sudah diatur oleh-Nya akan membuat seseorang semakin lega dan tenang dalam menghadapi dan menjalani kehidupanya.

Dialog ayah dan anak dalam Al-Qur'an


(Nabi Ibrahim berkata),
Anakku....
Sesungguhnya Allah swt memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.
(QS. AL-BAQARAH [2]:132)
===
(Kisah Luqman dengan anaknya)
Anakku...
Janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar.
(QS. LUQMAN [31]:13)
===
(Nabi Ya'qub berkata)
Anak-anaku..
Janganlah kamu (bersama-sama) masuk satu gerbang yang berlain-lain. Namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu sedikit pun (dari takdir) Allah. KEPUTUSAN MENETAPKAN (SESUATU) HANYALAH HAK ALLAH SWT, KEPADANYALAH AKU BERTAWAKKAL DAN HENDAKLAH KEPADA-NYA saja orang-orang bertawakkal (berserah diri).
(QS. YUSUF [12]:67)

Kamis, 03 Agustus 2017

SIAPAKAH YANG PATUT DISEBUT ULAMA?


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu).

Bagaimanakah sosok ulama yang memiliki karakter pewaris para nabi?

menurut Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub (dadut.com) ada 5 ciri kriteria ulama pewaris Nabi ;

1. Ilmu Agama

Menguasai ilmu agama tentulah niscaya bagi ulama pewaris Nabi. Ilmu agama mendasari keyakinan, pengamalan, dan segala kebijaksanaan. Bagi seorang ulama, ilmu agama tidak sekadar untuk diamalkan oleh dirinya sendiri, tetapi juga untuk dapat diamalkan dan bermanfaat bagi orang lain.

Oleh karena itu, ulama ahli waris Nabi dituntut untuk dapat memberi pencerahan kepada umat terkait persoalan agama, minimal dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan.

Dalam tradisi kita, bisa dikatakan bahwa standar minimum penguasaan terhadap ilmu agama adalah kecakapan mengakses informasi langsung dari literatur kitab kuning. Tanpa kemampuan tersebut, seseorang tidak dapat dikatakan ahli agama.

Dalam sebuah sabda Nabi, “Ulama adalah ahli waris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, tetapi mewariskan ilmu (agama).” (HR Ibn Majah).

Oleh karena itu, dalam kesempatan yang lain, ketika Nabi ditanya tentang pertanian, beliau menjawab, “Kamu lebih mengetahui tentang dunia (pertanian) daripada saya.”

2. Takut kepada Allah

Rasa dan sikap “takut” kepada Allah menjadi salah satu ciri utama ulama pewaris Nabi. Dalam Alquran, kondisi batin yang demikian diungkap dengan kata khasyah. Khasyah adalah rasa takut yang dibarengi dengan penghormatan dan ketaatan.

3. Zuhud dan Berorientasi Ukhrawi

Zuhud merupakan sikap yang menunjukkan tidak adanya rasa cinta kepada dunia setelah dunia itu dikuasainya. Zuhud adalah tidak adanya ketergantungan hati kepada dunia, dengan indikator bahwa ada atau tiadanya dunia selalu terasa sama, tidak mengubah stabilitas hati.

Nabi Muhammad Saw. adalah seorang yang zuhud, karena meskipun beliau punya kesempatan untuk hidup mewah sebagaimana pernah ditawarkan oleh Allah, tetapi beliau tetap memilih hidup sederhana.

Ulama ahli waris nabi haruslah bersikap zuhud dalam hidupnya. Bila tidak, akan banyak hal yang bermerk “agama” yang mudah dijualnya untuk kepentingan dunia.

4. Akrab dengan Wong Cilik

Ulama ahli waris Nabi memiliki sikap egaliter yang tinggi. Tak pernah merasa lebih tinggi dari yang lain. Karenanya, ia selalu dapat akrab dengan rakyat kecil dan kaum lemah. Kaum kecil dibuatnya berjiwa besar dan yang lemah didorongnya untuk menjadi pribadi yang kuat.

Sebelum masuk Islam, Abu Sufyan ditanya oleh Kaisar Heraklius perihal pengikut Nabi Muhammad. Abu Sufyan menjawab bahwa pengikut Nabi didominasi oleh rakyat jelata. Maka Kaisar Heraklius pun membenarkan kenabian Muhammad, karena ia tahu bahwa pengikut para Nabi terdahulu juga kalangan jelata.

Bila demikian sikap Nabi terhadap rakyat kecil, maka ulama sebagai ahli warisnya harusnya juga dapat menyatu dengan rakyat kecil, kendati tidak ada fasilitas mewah dan pelayanan yang serba wah.

5. Empat Puluh Tahun

Empat puluh tahun juga menjadi salah satu ciri penting keulamaan. Mengapa empat puluh tahun? Menurut para ahli, pada usia empat puluh tahun, seseorang umumnya telah mencapai kematangan jiwa. Pada usia itu ia sudah dapat istikamah, stabil dan tenang jiwanya.

Kemapanan pribadinya cukup menjadi alasan dia layak menjadi panutan kaumnya. Sebelum mencapai usia itu, jiwanya masih bergejolak dan kepribadiannya labil. Pada kondisi ini, selain kemampuannya untuk memimpin umat masih dipertanyakan, ia juga acapkali telah merasa besar sebelum waktunya.

Diangkatnya para nabi, kecuali Nabi Isa, menjadi nabi sesudah berumur empat puluh tahun kiranya cukup memberi isyarat bahwa ada hikmah tertentu di balik empat puluh tahun usia seseorang.

Sedikit uraian ini mampu memberikan gambaran bagaimanakah ulama yang patut disebut ulama.

Alloohu A'lam

Ahmad Zain Fuad
Ulama bagi NU memiliki makna yang sangat dalam, tidak hanya sebagai figur namun sebagai penentu sebuah kebijakan dalam jam'iyah Nahdlotul Ulama.

Secara ringkas kedudukan Ulama didalam NU menempati posisi sentral diantaranya :

1. Ulama sebagai pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

2. Ulama sebagai Pengelola Nahdlatul Ulama.

3. Ulama sebagai Pengendali Kebijakan – kebijakan Nahdlatul Ulama.

4. Ulama sebagai panutan dan contoh tauladan bagi seluruh  warga Nahdlatul Ulama dan kaum Muslimin khususnya.

Itulah sebabnya, maka antara NU dan Ulama tidak dapat dipisah-pisahkan, artinya saling membesarkan, saling mengambil dan memberi manfaat.

Nahdlatul Ulama tanpa Ulama akan gersang tidak ada artinya sama sekali, dan Ulama  yang keluar dari Nahdlatul Ulama berkurang bahkan hilang kemanfaatannya bagi masyarakat Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Dengan demikian posisi Ulama dan peranannya didalam Nahdlatul Ulama sangat penting, oleh karenanya secara organisatoris Ulama didalam NU disediakan lembaga khusus yang dinamakan “Lembaga Syuriah”.

Lembaga ini berfungsi sebagai pengelola, pengendali, Pengawas dan penentu semua kebijaksanaan dalam Nahdlatul Ulama, sehingga dapatlah dikatakan dan memang demikian kenyataannya, bahwa Ulama dan Nahdlatul Ulama  merupakan tiang penyangga utama atau soko guru.

Jika ada oknum yang mengaku sebagai nahdliyin namun suka merendahkan bahkan mencaci ulama-ulama NU yang memegang amanah sebagai pengurus NU, maka dipastikan mereka belum mengenal jam'iyah NU.

Ad Placement