Gebrakan FKPQ Kota Malang: Dorong Guru Ngaji Kuasai AI Tanpa Kehilangan Ruh Dakwah - kangzainfuad.com

Minggu, 02 Agustus 2026

Gebrakan FKPQ Kota Malang: Dorong Guru Ngaji Kuasai AI Tanpa Kehilangan Ruh Dakwah

Dokumen : Praktik dan Interaksi langsung dengan peserta saat penyampaian materi AI bagi Guru Ngaji Kota Malang


MALANG – Bayangan bahwa Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan hanya milik dunia industri dan sains dipatahkan oleh DPC Forum Komunikasi Pendidikan Al-Qur'an (FKPQ) Kota Malang. Bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama Kota Malang pada Ahad (02/08/2026), ratusan ustadz dan ustadzah pengelola TPQ/TPA se-Kota Malang antusias membedah pemanfaatan AI untuk mendukung dakwah Al-Qur'an.

Melalui materi bertajuk "Mengabdi dengan Hati, Berkarya dengan Teknologi", Ketua DPC FKPQ Kota Malang, Ahmad Zain Fuad, S.Si., S.Pd., M.Pd., mengajak para pendidik Al-Qur'an untuk berani keluar dari zona nyaman dan bersahabat dengan kemajuan teknologi.

Mengenalkan AI sebagai "Khadim" Digital

Di hadapan ratusan guru ngaji, Ahmad Zain Fuad meluruskan miskonsepsi bahwa teknologi AI akan menggeser peran pendidik. Sebaliknya, ia memperkenalkan AI sebagai Khadim—asisten digital cerdas yang siap membantu meringankan beban administrasi dan persiapan mengajar.

"AI itu ibarat kalkulator untuk pekerjaan berpikir. Ini adalah evolusi alat bantu dari fisik ke kognitif," papar Ahmad Zain Fuad. "Tujuannya sederhana, membantu merangkum data, mencari ide materi, hingga menyusun teks secara cepat agar waktu guru ngaji tidak habis untuk urusan teknis."

Suasana pembekalan makin interaktif saat mendemonstrasikan secara langsung pemanfaatan AI. Para guru diajak melihat bagaimana AI dapat membantu merancang ide ice breaking pembelajaran, menyusun kuis Sirah Nabawiyah yang interaktif, hingga membuat flyer penerimaan santri baru yang estetis menggunakan fitur AI di aplikasi Canva.

Tidak hanya itu, peserta juga dibekali dengan formula Prompting P-T-K (Peran, Tugas, Konteks) agar perintah yang diberikan kepada mesin menghasilkan jawaban yang akurat, relevan, dan sesuai kebutuhan TPQ.

Ketegasan Menjaga "Zona Sakral" Pendidikan Al-Qur'an

Kendati mendorong para guru ngaji untuk melek digital, Ahmad Zain Fuad memberi garis tegas terkait batasan penggunaan teknologi dalam pendidikan Al-Qur'an. Ada "Zona Sakral" dalam proses belajar-mengajar yang tidak akan pernah bisa disentuh apalagi digantikan oleh mesin.

"Sebaik apa pun AI, ia tidak memiliki sanad dan tidak bisa melakukan proses Talaqqi. Mesin tidak memiliki rasa empati untuk memahami kelelahan santri, dan tidak punya kebijaksanaan untuk menanamkan keteladanan adab. Zona sakral ini adalah wilayah mutlak guru ngaji," tegasnya penuh penekanan.

Sentuhan Akhir: Teknologi Meringankan, Doa Melangitkan

Sesi pembinaan inovatif ini dipungkasi dengan pesan mendalam bagi seluruh pendidik Al-Qur'an di Kota Malang. Kehadiran AI bukan untuk mengurangi nilai pengabdian, melainkan menjadi alat bantu agar ustadz dan ustadzah memiliki lebih banyak waktu dan energi fokus pada pendampingan karakter (character building) para santri.

"Kecerdasan buatan mungkin bisa mengolah jutaan data dalam hitungan detik, namun AI tidak akan pernah bisa menggantikan keberkahan dan ketulusan doa seorang guru ngaji kepada muridnya," tuturnya.

Sebagai penguatan dan bentuk internalisasi materi di akhir sesi, Ahmad Zain Fuad mengajak seluruh peserta melakukan yel-yel yang diiringi gerakan serempak. Dengan penuh gelora, ratusan guru ngaji menyerukan bersama:

"Guru Ngaji, Terus Berinovasi, untuk Generasi Qur'ani yang Berbudi!"

Pekikan yel-yel tersebut disambut riuh tepuk tangan membahana dari seluruh peserta, menandai semangat baru guru ngaji Kota Malang yang siap beradaptasi dengan era digital tanpa melupakan nilai-nilai suci Al-Qur'an

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda