2026 - kangzainfuad.com

Jumat, 07 Agustus 2026

Catatan di Usia 43: Tentang Cinta, Syukur, dan Sisa Waktu Kita

Dok Ig bunda @lindaagustin125
Hari ini, 7 Agustus, usia Ayah genap menyentuh angka 43 tahun. Sebuah angka yang menyadarkan Ayah bahwa separuh perjalanan di dunia ini mungkin telah terlewati. Di hari lahir ini, Ayah tidak ingin meminta perayaan yang meriah. Ayah hanya ingin duduk sejenak, memeluk kalian dalam doa, dan menyampaikan apa yang ada di dalam dada.

Memasuki usia 43 tahun, Islam mengajarkan kita untuk semakin sering menengok ke dalam diri. Usia ini adalah alarm lembut dari Allah SWT bahwa waktu kita berkumpul di dunia tidaklah selamanya. Setiap detik yang berlalu adalah jatah usia yang berkurang, dan Ayah ingin memastikan sisa waktu yang ada tidak terbuang sia-sia.

Untuk Istriku

Terima kasih telah menemani perjalanan panjang ini. Di usia 43 tahun ini, Ayah semakin menyadari bahwa kebahagiaan rumah tangga kita bukan dicapai dari menuntut kesempurnaan, melainkan dari belajar saling menerima.

Seperti pesan filosofi "setengah gelas air", Ayah belajar untuk tidak lagi meratapi apa yang belum ada, tetapi fokus menikmati, mensyukuri, dan menjaga setiap kebaikan dan kehangatan yang sudah bunda berikan. Terima kasih telah menjadi rumah tempat Ayah pulang dan menguatkan saat ujian datang bertubi-tubi.

Untuk Anak-Anakku

Kalian adalah rezeki dan amanah terbesar dalam hidup Ayah. Di usia yang makin matang ini, Ayah sadar bahwa warisan terbaik yang bisa Ayah tinggalkan untuk kalian bukanlah harta yang melimpah, melainkan keteladanan, ilmu yang bermanfaat, serta doa yang tak pernah putus.

Ayah mungkin tidak selalu menjadi ayah yang sempurna. Kadang Ayah lelah atau bersikap tegas. Namun ketahuilah, setiap langkah, keringat, dan usaha Ayah sebagai pendidik maupun sebagai kepala keluarga adalah bentuk cinta terikhlas untuk masa depan kalian. Jadilah anak-anak yang tangguh imannya, bersabar saat diuji, dan selalu pandai bersyukur atas sekecil apa pun nikmat yang Allah berikan.

Pengingat untuk Jiwaku Sendiri

Di usia 43 tahun ini, wahai diri...

  • Jangan lagi silau oleh dunia yang fana.

  • Ketika ujian datang menerpa, tegakkan imanmu, lalu bersabarlah.

  • Ketika nikmat disapa, tundukkan hatimu, lalu bersyukurlah.

  • Jadikan sisa umur ini sebagai ladang keberkahan untuk membimbing keluarga, memimpin dengan hati, dan menebar kebaikan bagi banyak orang.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga ikatan keluarga kita, memelihara kesehatan kita, dan mengumpulkan kita kembali kelak di surga-Nya dalam keadaan husnul khatimah.

Amiin Yaa Rabbal 'Alamiin.

Minggu, 02 Agustus 2026

Gebrakan FKPQ Kota Malang: Dorong Guru Ngaji Kuasai AI Tanpa Kehilangan Ruh Dakwah

Dokumen : Praktik dan Interaksi langsung dengan peserta saat penyampaian materi AI bagi Guru Ngaji Kota Malang


MALANG – Bayangan bahwa Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan hanya milik dunia industri dan sains dipatahkan oleh DPC Forum Komunikasi Pendidikan Al-Qur'an (FKPQ) Kota Malang. Bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama Kota Malang pada Ahad (02/08/2026), ratusan ustadz dan ustadzah pengelola TPQ/TPA se-Kota Malang antusias membedah pemanfaatan AI untuk mendukung dakwah Al-Qur'an.

Melalui materi bertajuk "Mengabdi dengan Hati, Berkarya dengan Teknologi", Ketua DPC FKPQ Kota Malang, Ahmad Zain Fuad, S.Si., S.Pd., M.Pd., mengajak para pendidik Al-Qur'an untuk berani keluar dari zona nyaman dan bersahabat dengan kemajuan teknologi.

Mengenalkan AI sebagai "Khadim" Digital

Di hadapan ratusan guru ngaji, Ahmad Zain Fuad meluruskan miskonsepsi bahwa teknologi AI akan menggeser peran pendidik. Sebaliknya, ia memperkenalkan AI sebagai Khadim—asisten digital cerdas yang siap membantu meringankan beban administrasi dan persiapan mengajar.

"AI itu ibarat kalkulator untuk pekerjaan berpikir. Ini adalah evolusi alat bantu dari fisik ke kognitif," papar Ahmad Zain Fuad. "Tujuannya sederhana, membantu merangkum data, mencari ide materi, hingga menyusun teks secara cepat agar waktu guru ngaji tidak habis untuk urusan teknis."

Suasana pembekalan makin interaktif saat mendemonstrasikan secara langsung pemanfaatan AI. Para guru diajak melihat bagaimana AI dapat membantu merancang ide ice breaking pembelajaran, menyusun kuis Sirah Nabawiyah yang interaktif, hingga membuat flyer penerimaan santri baru yang estetis menggunakan fitur AI di aplikasi Canva.

Tidak hanya itu, peserta juga dibekali dengan formula Prompting P-T-K (Peran, Tugas, Konteks) agar perintah yang diberikan kepada mesin menghasilkan jawaban yang akurat, relevan, dan sesuai kebutuhan TPQ.

Ketegasan Menjaga "Zona Sakral" Pendidikan Al-Qur'an

Kendati mendorong para guru ngaji untuk melek digital, Ahmad Zain Fuad memberi garis tegas terkait batasan penggunaan teknologi dalam pendidikan Al-Qur'an. Ada "Zona Sakral" dalam proses belajar-mengajar yang tidak akan pernah bisa disentuh apalagi digantikan oleh mesin.

"Sebaik apa pun AI, ia tidak memiliki sanad dan tidak bisa melakukan proses Talaqqi. Mesin tidak memiliki rasa empati untuk memahami kelelahan santri, dan tidak punya kebijaksanaan untuk menanamkan keteladanan adab. Zona sakral ini adalah wilayah mutlak guru ngaji," tegasnya penuh penekanan.

Sentuhan Akhir: Teknologi Meringankan, Doa Melangitkan

Sesi pembinaan inovatif ini dipungkasi dengan pesan mendalam bagi seluruh pendidik Al-Qur'an di Kota Malang. Kehadiran AI bukan untuk mengurangi nilai pengabdian, melainkan menjadi alat bantu agar ustadz dan ustadzah memiliki lebih banyak waktu dan energi fokus pada pendampingan karakter (character building) para santri.

"Kecerdasan buatan mungkin bisa mengolah jutaan data dalam hitungan detik, namun AI tidak akan pernah bisa menggantikan keberkahan dan ketulusan doa seorang guru ngaji kepada muridnya," tuturnya.

Sebagai penguatan dan bentuk internalisasi materi di akhir sesi, Ahmad Zain Fuad mengajak seluruh peserta melakukan yel-yel yang diiringi gerakan serempak. Dengan penuh gelora, ratusan guru ngaji menyerukan bersama:

"Guru Ngaji, Terus Berinovasi, untuk Generasi Qur'ani yang Berbudi!"

Pekikan yel-yel tersebut disambut riuh tepuk tangan membahana dari seluruh peserta, menandai semangat baru guru ngaji Kota Malang yang siap beradaptasi dengan era digital tanpa melupakan nilai-nilai suci Al-Qur'an

Rabu, 24 Juni 2026

Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026: Standar Proses Baru untuk Pendidikan yang Bermakna dan Menggembirakan

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah baru saja menetapkan Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Menengah. Peraturan ini hadir untuk menggantikan standar sebelumnya (Permendikbudristek No. 16 Tahun 2022) agar lebih relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan dinamika sosial saat ini.

Paradigma Baru: Olah Pikir, Hati, Rasa, dan Raga

Dalam peraturan terbaru ini, proses pembelajaran tidak lagi hanya fokus pada aspek kognitif semata. Pendidikan di Indonesia kini diarahkan untuk dilakukan secara holistik dan terpadu melalui empat pilar utama: olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga.

Pembelajaran harus berlandaskan pada tiga prinsip utama:

Berkesadaran: Murid memahami tujuan belajar mereka sehingga tumbuh motivasi internal dan kemampuan mengatur diri sendiri.

Bermakna: Murid dapat menerapkan ilmu yang dipelajari dalam kehidupan nyata secara kontekstual.

Menggembirakan: Menciptakan suasana belajar yang positif, menantang, dan memotivasi.

Peran Guru yang Bertransformasi

Sejalan dengan kebutuhan pendidikan masa kini, guru tidak lagi sekadar menjadi sumber informasi tunggal. Berdasarkan Pasal 9, pendidik wajib memberikan keteladanan, pendampingan, dan fasilitasi.

Keteladanan diwujudkan melalui perilaku mulia dan sikap terbuka dalam bekerja sama dengan murid.

Pendampingan berarti mendorong murid membangun pengetahuan secara aktif dari berbagai sumber.

Fasilitasi mencakup penyediaan akses belajar yang sesuai dengan kebutuhan unik setiap murid dan memberikan ruang bagi mereka untuk menciptakan strategi belajar sendiri.

Pengalaman Belajar: Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi

Konteks pendidikan saat ini sangat menekankan pada kemampuan adaptasi. Oleh karena itu, standar proses yang baru mewajibkan murid mendapatkan tiga pengalaman belajar utama: memahami (membangun sikap dan pengetahuan), mengaplikasi (menggunakan pengetahuan dalam situasi nyata), dan merefleksi (mengevaluasi hasil belajar untuk menjadi pembelajar mandiri).

Untuk mendukung hal ini, pelaksanaan pembelajaran harus memanfaatkan teknologi (digital maupun nondigital) guna menciptakan interaksi yang kolaboratif dan kontekstual.

Evaluasi yang Lebih Partisipatif

Satu hal yang menarik dalam Standar Proses 2026 adalah mekanisme penilaian proses pembelajaran yang kini lebih terbuka. Penilaian tidak hanya dilakukan oleh guru yang bersangkutan melalui refleksi diri, tetapi juga melibatkan:

Sesama Pendidik: Untuk membangun budaya saling belajar dan kerja sama.

Kepala Satuan Pendidikan: Melalui supervisi akademik dan umpan balik konstruktif.

Murid: Murid diberikan ruang untuk menilai proses pembelajaran melalui survei atau diskusi refleksi guna mengembangkan kemandirian dan tanggung jawab.

Relevansi dengan Konteks Saat Ini

Di tengah transformasi pendidikan di Indonesia yang terus berupaya mengejar ketertinggalan literasi dan numerasi, Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 mempertegas pentingnya lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan inklusif. Dengan penekanan pada pembelajaran yang “menggembirakan”, pemerintah berupaya menghapus stigma bahwa belajar adalah beban, melainkan sebuah proses pengembangan potensi sesuai minat dan bakat murid.

Kehadiran regulasi ini menjadi komitmen baru dalam memperkuat karakter bangsa melalui integrasi nilai-nilai moral (olah hati dan rasa) yang dibarengi dengan ketangkasan intelektual dan fisik.

Selasa, 05 Mei 2026

Di Balik Kursi Kosong: Antara Aturan Sekolah dan Hati Seorang Murid

Di sekolah kami, Surya Buana, pagi hari selalu riuh dengan lantunan doa dan kegiatan keagamaan. Namun, ada satu kursi yang seringkali kosong di jam-jam itu. Pemiliknya adalah seorang siswa yang menurut banyak orang "sulit". Ia sengaja datang terlambat untuk menghindari ritual pagi, dan lebih memilih tidak masuk sama sekali di hari Senin dan Jumat demi menghindari ekskul wajib.

Bagi sebagian rekan guru, pilihannya sederhana: "Keluarkan saja. Kita bukan sekolah inklusi." Kalimat itu tajam, namun nyata. Di sisi lain, orang tuanya pun sudah angkat tangan, merasa lelah dengan kekeraspalaannya.

Namun, benarkah ia hanya sekadar membangkang?

Saat kami mengobrol santai selepas shalat, raut wajahnya bercerita lebih banyak dari kata-katanya. Ia merasa asing. Ia merasa terjebak dalam sebuah sistem yang dipaksakan orang tuanya, sebuah sistem yang tidak "nyambung" dengan jiwanya. Baginya, sekolah terasa seperti penjara ideologis, bukan taman belajar.

Tugas saya sebagai guru ternyata bukan untuk mematahkan kekeraspalaannya, melainkan untuk memahami akarnya. Menghukumnya dengan aturan formal hanya akan membuatnya semakin ingin pergi. Ia sudah tidak takut dikeluarkan; ia justru menantang hal itu.

Kini, saya belajar untuk menjadi "pelabuhan aman" baginya. Saya tidak lagi berbicara tentang poin atau sanksi. Saya mencoba bicara tentang masa depan dan rasa hormat. Perubahan mungkin tidak datang besok pagi, tapi setidaknya, saya ingin ia tahu bahwa di tengah riuhnya penilaian orang, ada satu kursi di hati gurunya yang tetap disediakan untuknya tanpa syarat.

Karena pada akhirnya, mendidik adalah menjaga nyawa yang hampir padam, bukan mematikannya hanya karena ia tidak bersinar dengan cara yang sama.

Kamis, 22 Januari 2026

Study Empiris SMA Surya Buana Malang 2026: Penguatan Pembelajaran Aktif dan Menyenangkan

Study Empiris (SE) merupakan program tahunan SMA Surya Buana Malang yang dirancang untuk memperkuat pemahaman serta proses pembelajaran siswa melalui pendekatan yang menyenangkan dan bermakna, dengan konsep learning by enjoy. Program ini memberikan pengalaman belajar langsung di luar kelas agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan realitas kehidupan.

Pada tahun 2026, Study Empiris dilaksanakan pada 21–23 Januari 2026 di Pulau Dewata, Bali, dengan mengusung tema “Dewata Journey”. Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan akademik dan budaya siswa, dengan destinasi utama Universitas Udayana sebagai pusat pembelajaran akademik, serta menyaksikan kekayaan budaya Bali melalui pertunjukan Tari Kecak. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan memperoleh pengalaman belajar yang inspiratif sekaligus memperkaya wawasan kebudayaan Nusantara.

Dalam pelaksanaannya, Study Empiris SMA Surya Buana menerapkan Metode TANDUR, sebuah strategi pembelajaran dari Quantum Teaching. Metode TANDUR merupakan akronim dari Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan, yang bertujuan menciptakan suasana belajar yang aktif, bermakna, dan menyenangkan. Melalui metode ini, siswa terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran, memahami konsep secara konkret, mempraktikkannya, mengulanginya, hingga merayakan keberhasilan belajar mereka.

Adapun langkah-langkah penerapan Metode TANDUR adalah sebagai berikut:

Tumbuhkan (T)

Menumbuhkan minat dan motivasi belajar siswa dengan mengaitkan materi pada manfaatnya bagi kehidupan mereka (AMBAK: Apakah Manfaatnya BagiKu). Materi disajikan secara relevan melalui cerita inspiratif atau tayangan menarik sehingga memicu rasa ingin tahu siswa.

Alami (A)

Memberikan pengalaman belajar secara langsung dan konkret agar siswa dapat merasakan sendiri materi yang dipelajari. Pengalaman ini membantu memperkuat ingatan jangka panjang (long-term memory).

Namai (N)

Memberikan istilah, konsep, rumus, atau model sebagai penanda dari pengalaman belajar yang telah dialami siswa, disertai contoh penerapannya dalam kehidupan nyata.

Demonstrasikan (D)

Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan pemahaman dan keterampilan mereka melalui presentasi, praktik, atau aktivitas nyata.

Ulangi (U)

Melakukan pengulangan dan peninjauan kembali materi secara menyeluruh dengan berbagai metode agar pemahaman siswa semakin mendalam dan kuat.

Rayakan (R)

Memberikan apresiasi berupa pujian, penghargaan, atau hadiah sederhana atas usaha dan pencapaian siswa, sehingga menumbuhkan rasa percaya diri dan motivasi belajar.

Penerapan Metode TANDUR dalam kegiatan Study Empiris memberikan berbagai manfaat, antara lain:

  1. Mengubah suasana belajar yang monoton menjadi lebih menyenangkan dan aktif.
  2. Meningkatkan kemampuan berpikir kritis, ilmiah, serta keterampilan mengemukakan ide.
  3. Memperkuat pemahaman konsep dan menjadikan pembelajaran lebih bermakna.
  4. Meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa secara signifikan.

Melalui Study Empiris 2026, SMA Surya Buana Malang berkomitmen untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga pada pengalaman, karakter, dan kecintaan terhadap budaya bangsa.

Sabtu, 03 Januari 2026

Penjara Suci di Tengah Arus Mekanisasi Zaman: Catatan Pengantar Kakak Luthfi


Akhir pekan ini, 3-4 Januari 2026, menjadi momen reflektif bagi keluarga saat mengantarkan Kakak Luthfi kembali ke Pondok Pesantren Modern Amanatus Salam, Wonosalam, Jombang. Di balik sejuknya udara Wonosalam, tersimpan sebuah proses besar: penundukan hawa nafsu demi kemaslahatan masa depan.

Bagi sebagian remaja, pondok mungkin dianggap sebagai "penjara". Namun, dalam kacamata yang lebih jernih, ia adalah penjara suci. Tempat di mana keinginan liar manusia tidak dimatikan, melainkan dijinakkan dengan ilmu dan dibungkus dengan adab.

Tantangan Pemuda di Era Mekanis

Kita hidup di era di mana segala sesuatu bergerak sangat cepat namun sering kali terasa "kosong". Modernisasi membawa kemudahan, tetapi juga membawa risiko mekanisasi jiwa. Saat ini, semua lebih mekanis; bergerak tanpa isi. Ruh yang mengisi ilmu terasa hampa karena hilangnya nilai-nilai luhur Ilahiyah.
Fenomena ini terlihat dari realita pemuda saat ini:

1. Dominasi Budaya Instan vs Proses Riyadhah

Di era digital 2026, akses informasi terjadi dalam hitungan milidetik. Hal ini membentuk pola pikir pragmatis di mana remaja cenderung menginginkan hasil tanpa menghargai proses. Sebaliknya, pesantren seperti Amanatus Salam mewajibkan santri melalui "Riyadhah" (latihan spiritual) yang melatih kesabaran dan ketangguhan mental.

2. Krisis Kedalaman Ilmu (Informasi vs Transformasi)

Data menunjukkan bahwa meskipun tingkat literasi digital pemuda meningkat, kemampuan untuk melakukan refleksi mendalam justru menurun. Ilmu hanya menjadi tumpukan data di otak (mekanis), bukan menjadi cahaya yang mengubah perilaku. Inilah mengapa ilmu yang dibarengi adab menjadi barang langka di zaman modern.

3. Pergeseran Nilai dari Manfaat ke Eksistensi

Modernisasi seringkali mendorong pemuda untuk fokus pada "Self-Centered" atau pemuasan hawa nafsu dan eksistensi diri di media sosial. 

Sementara itu, pendidikan pesantren berupaya membelokkan keinginan tersebut menuju "Maslahat"—bagaimana ilmu yang didapat bisa memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Mengembalikan Ruh dalam Ilmu

Kesulitan terbesar di era ini bukan mencari orang pintar, melainkan mencari orang yang ilmunya mendatangkan Rahmat. Hal ini hanya bisa diraih jika ilmu tidak berdiri sendiri sebagai deretan formula mekanis, melainkan diiringi dengan implementasi adab yang kuat.

Di Wonosalam, Kakak Luthfi tidak sekadar belajar teks agama, ia sedang belajar menjadi manusia yang memiliki "isi". Ia dilatih agar geraknya bukan sekadar gerak mekanis robotik yang diperbudak tren, melainkan gerak yang didorong oleh nilai luhur Ilahiyah.

"Setiap manusia memiliki keinginan, tapi keinginan yang dibungkus ilmu dan diperdalam dengan adab, insyaallah akan mendatangkan rahmat bagi semesta."

Semoga langkah Kakak Luthfi di Amanatus Salam menjadi wasilah turunnya keberkahan bagi keluarga dan bekal manfaat di kemudian hari. Selamat berjuang kembali di taman ilmu, Kakak!

Ad Placement