![]() |
1. Dominasi Budaya Instan vs Proses Riyadhah
Di era digital 2026, akses informasi terjadi dalam hitungan milidetik. Hal ini membentuk pola pikir pragmatis di mana remaja cenderung menginginkan hasil tanpa menghargai proses. Sebaliknya, pesantren seperti Amanatus Salam mewajibkan santri melalui "Riyadhah" (latihan spiritual) yang melatih kesabaran dan ketangguhan mental.
2. Krisis Kedalaman Ilmu (Informasi vs Transformasi)
Data menunjukkan bahwa meskipun tingkat literasi digital pemuda meningkat, kemampuan untuk melakukan refleksi mendalam justru menurun. Ilmu hanya menjadi tumpukan data di otak (mekanis), bukan menjadi cahaya yang mengubah perilaku. Inilah mengapa ilmu yang dibarengi adab menjadi barang langka di zaman modern.
3. Pergeseran Nilai dari Manfaat ke Eksistensi
Modernisasi seringkali mendorong pemuda untuk fokus pada "Self-Centered" atau pemuasan hawa nafsu dan eksistensi diri di media sosial.
Sementara itu, pendidikan pesantren berupaya membelokkan keinginan tersebut menuju "Maslahat"—bagaimana ilmu yang didapat bisa memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.
Mengembalikan Ruh dalam Ilmu
Kesulitan terbesar di era ini bukan mencari orang pintar, melainkan mencari orang yang ilmunya mendatangkan Rahmat. Hal ini hanya bisa diraih jika ilmu tidak berdiri sendiri sebagai deretan formula mekanis, melainkan diiringi dengan implementasi adab yang kuat.
Di Wonosalam, Kakak Luthfi tidak sekadar belajar teks agama, ia sedang belajar menjadi manusia yang memiliki "isi". Ia dilatih agar geraknya bukan sekadar gerak mekanis robotik yang diperbudak tren, melainkan gerak yang didorong oleh nilai luhur Ilahiyah.
"Setiap manusia memiliki keinginan, tapi keinginan yang dibungkus ilmu dan diperdalam dengan adab, insyaallah akan mendatangkan rahmat bagi semesta."
Semoga langkah Kakak Luthfi di Amanatus Salam menjadi wasilah turunnya keberkahan bagi keluarga dan bekal manfaat di kemudian hari. Selamat berjuang kembali di taman ilmu, Kakak!
