kangzainfuad.com

Sabtu, 03 Januari 2026

Penjara Suci di Tengah Arus Mekanisasi Zaman: Catatan Pengantar Kakak Luthfi


Akhir pekan ini, 3-4 Januari 2026, menjadi momen reflektif bagi keluarga saat mengantarkan Kakak Luthfi kembali ke Pondok Pesantren Modern Amanatus Salam, Wonosalam, Jombang. Di balik sejuknya udara Wonosalam, tersimpan sebuah proses besar: penundukan hawa nafsu demi kemaslahatan masa depan.

Bagi sebagian remaja, pondok mungkin dianggap sebagai "penjara". Namun, dalam kacamata yang lebih jernih, ia adalah penjara suci. Tempat di mana keinginan liar manusia tidak dimatikan, melainkan dijinakkan dengan ilmu dan dibungkus dengan adab.

Tantangan Pemuda di Era Mekanis

Kita hidup di era di mana segala sesuatu bergerak sangat cepat namun sering kali terasa "kosong". Modernisasi membawa kemudahan, tetapi juga membawa risiko mekanisasi jiwa. Saat ini, semua lebih mekanis; bergerak tanpa isi. Ruh yang mengisi ilmu terasa hampa karena hilangnya nilai-nilai luhur Ilahiyah.
Fenomena ini terlihat dari realita pemuda saat ini:

1. Dominasi Budaya Instan vs Proses Riyadhah

Di era digital 2026, akses informasi terjadi dalam hitungan milidetik. Hal ini membentuk pola pikir pragmatis di mana remaja cenderung menginginkan hasil tanpa menghargai proses. Sebaliknya, pesantren seperti Amanatus Salam mewajibkan santri melalui "Riyadhah" (latihan spiritual) yang melatih kesabaran dan ketangguhan mental.

2. Krisis Kedalaman Ilmu (Informasi vs Transformasi)

Data menunjukkan bahwa meskipun tingkat literasi digital pemuda meningkat, kemampuan untuk melakukan refleksi mendalam justru menurun. Ilmu hanya menjadi tumpukan data di otak (mekanis), bukan menjadi cahaya yang mengubah perilaku. Inilah mengapa ilmu yang dibarengi adab menjadi barang langka di zaman modern.

3. Pergeseran Nilai dari Manfaat ke Eksistensi

Modernisasi seringkali mendorong pemuda untuk fokus pada "Self-Centered" atau pemuasan hawa nafsu dan eksistensi diri di media sosial. 

Sementara itu, pendidikan pesantren berupaya membelokkan keinginan tersebut menuju "Maslahat"—bagaimana ilmu yang didapat bisa memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Mengembalikan Ruh dalam Ilmu

Kesulitan terbesar di era ini bukan mencari orang pintar, melainkan mencari orang yang ilmunya mendatangkan Rahmat. Hal ini hanya bisa diraih jika ilmu tidak berdiri sendiri sebagai deretan formula mekanis, melainkan diiringi dengan implementasi adab yang kuat.

Di Wonosalam, Kakak Luthfi tidak sekadar belajar teks agama, ia sedang belajar menjadi manusia yang memiliki "isi". Ia dilatih agar geraknya bukan sekadar gerak mekanis robotik yang diperbudak tren, melainkan gerak yang didorong oleh nilai luhur Ilahiyah.

"Setiap manusia memiliki keinginan, tapi keinginan yang dibungkus ilmu dan diperdalam dengan adab, insyaallah akan mendatangkan rahmat bagi semesta."

Semoga langkah Kakak Luthfi di Amanatus Salam menjadi wasilah turunnya keberkahan bagi keluarga dan bekal manfaat di kemudian hari. Selamat berjuang kembali di taman ilmu, Kakak!

Selasa, 30 Desember 2025

Silaturahmi Bani Musthofa Ke-15: Merawat Sunnah, Merajut Generasi, dan Melanjutkan Khidmah

Di tengah derasnya arus zaman yang kerap mengikis ikatan kekerabatan, ada sebuah tradisi yang teguh bertahan dan justru semakin bermakna: Silaturahmi Tiga Tahunan Keluarga Besar Bani Musthofa. Berkumpulnya ratusan sanak saudara dari berbagai penjuru pada Ahad, 28 Desember 2025 di Pondok Pesantren Darul Ma’arif, Payaman, Solokuro, Lamongan, bukan sekadar acara temu keluarga biasa. Ia adalah sebuah mozaik hidup yang memadukan amaliah sunnah, pendidikan karakter lintas generasi, dan refleksi atas warisan khidmah yang telah mengalir puluhan tahun.

 Dzurriyah Lintas Generasi : Doa' bersama untuk Al-marhum-Al-Marhumah seluruh Keluarga Besar Bani Musthofa Lamongan Jawa Timur

Lebih dari Sekadar Kumpul-Kumpul: Menyambung yang Ilahi dan yang Insani

Dalam ajaran Islam, silaturahmi memiliki kedudukan yang sangat agung. Ia adalah perintah yang menyatu dengan ketakwaan. Allah SWT berfirman, "Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi." (QS. An-Nisa': 1). Kata "al-arham" (rahim, tali kekeluargaan) dalam ayat ini ditempatkan berdampingan dengan nama Allah, seolah mengisyaratkan bahwa menyambung hubungan darah berarti juga menghormati sebuah ikatan yang bersifat Ilahiah.

Rasulullah SAW pun menjanjikan keberkahan duniawi yang nyata bagi mereka yang memeliharanya. Sabda beliau, "Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (HR. Bukhari & Muslim). Namun, bagi keluarga Bani Musthofa, silaturahmi ini memiliki dimensi yang lebih dalam dari sekadar harapan akan kelapangan rezeki. Ia adalah "wasilah" atau sarana vital untuk memperkuat fondasi ukhuwah islamiyah yang dimulai dari lingkaran terkecil: keluarga.

Acara yang dikelola secara apik oleh Forum Komunikasi dan Shilaturohim Bani Musthofa (FOKUS BAMUS) ini menjadi ruang di mana anak-anak menyaksikan langsung betapa orang tua mereka menghormati paman, bibi, dan sepupu yang jauh. Di sini, nilai-nilai sopan santun, penghormatan kepada yang lebih tua, dan rasa memiliki terhadap satu garis keturunan diajarkan bukan melalui teori, melainkan melalui praktik langsung. Mereka belajar bahwa "keluarga" itu melampaui batas rumah tangga inti mereka.

Generasi Penerus di Bawah Bayang-Bayang Leluhur

Tidak bisa dipungkiri, semangat silaturahmi Bani Musthofa berakar dari sosok pendirinya, Mbah Musthofa. Sebagai seorang tokoh panutan dan pendiri pesantren di wilayah pantura Lamongan, beliau mewariskan bukan hanya nama, tetapi sebuah etos khidmah (pengabdian) kepada agama dan masyarakat. Warisan ini yang menjadi benang merah yang menyatukan keragaman profesi dan domisili keturunannya.

Meski hidup tersebar di tengah masyarakat yang heterogen, banyak dari anak-cucu Bani Musthofa yang melanjutkan estafet perjuangan itu. Mereka berkhidmat sebagai kyai, nyai, ustadz, pengelola pesantren, dan aktivis di berbagai lembaga pendidikan Islam. Pertemuan tiga tahunan ini, dengan demikian, juga berfungsi sebagai "gelanggang pewarisan nilai". Para sesepuh bercerita, generasi tengah berbagi pengalaman, sementara generasi muda menyerap semangat itu. Mereka diingatkan bahwa nama yang mereka sandang membawa tanggung jawab moral untuk terus berkontribusi positif, di mana pun mereka berada.

Acara ini menjadi pengingat kolektif: keberadaan mereka hari ini adalah buah dari akar yang ditanam dengan tulus oleh leluhur. Sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim menguatkan spirit ini, di mana silaturahmi digambarkan sebagai entitas yang bergantung di 'Arsy Allah, seraya berkata, "Siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan siapa yang memutuskanku, maka Allah akan memutuskannya."

Memaknai Tradisi di Era Modern: Antara Nostalgia dan Masa Depan

Di era digital di mana komunikasi seringkali menjadi dangkal dan individualistis, kehadiran fisik dalam silaturahmi seperti ini adalah sebuah penegasan. Ia adalah pemberontakan terhadap keterpisahan. Berjabat tangan, bertatap muka, mendengar langsung cerita dan tawa, adalah nutrisi jiwa yang tak tergantikan oleh grup WhatsApp atau unggahan media sosial mana pun.

Agenda rutin Bani Musthofa ini menunjukkan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang kuno dan usang. Justru, tradisi yang berdasar pada nilai agama yang kuat adalah benteng ketahanan sosial. Ia menjaga identitas keluarga, memupuk rasa saling mendukung, dan menciptakan sistem jaringan sosial yang sehat dan penuh barakah.

Kesimpulannya, Silaturahmi Tiga Tahunan Bani Musthofa adalah sebuah living tradition (tradisi hidup) yang multi-dimensional. Ia sekaligus menjadi: ibadah sunnah, sekolah karakter bagi generasi muda, sarana revitalisasi komitmen khidmah, dan investasi sosial-budaya yang menjaga keutuhan keluarga besar. Ia membuktikan bahwa menyambung tali silaturahmi adalah cara paling elegan untuk menghormati masa lalu, menghidupkan masa kini, dan menyiapkan fondasi yang kokoh untuk masa depan keluarga dan masyarakat yang lebih luas. Inilah sunnah Nabi yang diamalkan, bukan hanya diucapkan.

Silaturahmi Tiga Tahunan Bani Musthofa: Merajut Ikatan Keluarga, Mengamalkan Sunnah Nabi

Keluarga besar Bani Abdurrahman bin KH. Musthofa dalam sesi foto Sub Bani, Ahad, 28/12/2025
LAMONGAN – Keluarga besar Bani Musthofa Lamongan kembali menyelenggarakan acara silaturahmi rutin tiga tahunan dengan penuh khidmat dan kehangatan. Bertempat di Pondok Pesantren Darul Ma'arif, Payaman, Solokuro, Lamongan, Jawa Timur pada Ahad, 28 Desember 2025, acara ini berhasil menyatukan ratusan anggota keluarga dari berbagai daerah dan lintas generasi.

Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk menyambung kembali tali silaturahmi (shilaturrahim), mempererat ikatan kekerabatan, dan saling mengenal di antara sanak saudara yang mungkin terpisah jarak dan waktu. Acara yang dikelola oleh kepanitiaan dari Forum Keluarga Bani Musthofa (FOKUS BAMUS) ini bukan sekadar tradisi, tetapi merupakan bentuk pengamalan nyata dari Sunnah Rasulullah SAW.

"Acara seperti ini menjadi motivasi dan pembelajaran berharga bagi generasi muda Bani Musthofa. Di sini mereka melihat langsung betapa pentingnya menjaga hubungan keluarga, yang merupakan perintah agama," ujar Cak Ismail bin KH. Nur Ali, Ketua FOKUS BAMUS.

Landasan Agung dalam Al-Qur'an dan Hadits

Keutamaan menjaga silaturahmi memiliki pondasi yang kuat dalam ajaran Islam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

"Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu." (QS. An-Nisa': 1).

Rasulullah SAW juga sangat menganjurkan umatnya untuk senantiasa menyambung tali silaturahmi. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

"Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi."

Hadits lain yang diriwayatkan oleh Muslim menegaskan, "Silaturahmi itu tergantung di ‘Arsy (Singgasana Allah), ia berkata, 'Siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan siapa yang memutuskanku, maka Allah akan memutuskannya'."

Warisan Khidmah dan Peran di Masyarakat

Bani Musthofa sendiri merupakan keluarga besar yang dikenal dengan kiprah dan khidmahnya di bidang pendidikan Islam dan pengabdian masyarakat. Kakek moyang mereka, Mbah Musthofa, adalah seorang tokoh panutan dan pendiri pesantren di wilayah pantura Lamongan. Semangat ini diwariskan secara turun-temurun, di mana banyak putra-putri dan cucu-cucu beliau yang berperan sebagai kyai, pengasuh pesantren, pendidik, dan aktif di berbagai lembaga keislaman.

Meski hidup dalam lingkungan masyarakat yang heterogen, keturunan Bani Musthofa umumnya memiliki peran signifikan dalam memimpin, membina, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sekitarnya. Hal ini tak lepas dari warisan nilai-nilai luhur, tafaqquh fiddin (mendalami agama), dan semangat menyambung tali persaudaraan yang selalu dijaga.

Acara silaturahmi tiga tahunan ini, dengan demikian, bukan hanya sekadar kumpul-keluarga biasa. Ia adalah manifestasi dari nilai-nilai keislaman, sarana mentransfer nilai kepada generasi penerus, sekaligus pengikat simpul-simpul kekerabatan yang dijanjikan keberkahan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Melalui acara ini, keluarga besar Bani Musthofa terus menghidupkan sunnah Nabi dan menjaga warisan ukhuwah yang menjadi pilar kekuatan mereka.

Rabu, 24 Desember 2025

FORUM GURU AL-QURAN AKHIRNYA PUNYA RUMAH: SETELAH 5 TAHUN NOMADEN, FKPQ MALANG RESMI MILIKI SEKRETARIAT DI ISLAMIC CENTRE

Penyerahan kunci Kantor DPC FKPQ Kota Malang dari Kesra Setda Pemerintah Kota Malang, Rabu (24/12/2025)
MALANG – Perjuangan panjang selama lima tahun akhirnya berbuah manis. Dewan Pengurus Cabang Forum Komunikasi Pendidikan Al-Quran (DPC FKPQ) Kota Malang, paguyuban yang menaungi ribuan guru ngaji, kini resmi memiliki ‘rumah’ permanen. Pada Rabu, 4 Desember 2025, kunci sekretariat tetap di kawasan Islamic Centre Kota Malang diserahkan secara simbolis oleh Pemerintah Kota, mengakhiri periode berpindah-pindah dari satu rumah pengurus ke pengurus lainnya.

Penyerahan fasilitas ini merupakan bentuk apresiasi konkret Pemkot Malang, melalui Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda, atas dedikasi tak kenal lelah FKPQ dalam membangun spiritualitas masyarakat. “Ini adalah wujud nyata kehadiran pemerintah bagi para guru Al-Quran,” ucap Ketua DPC FKPQ Kota Malang, Ahmad Zain Fuad, dengan penuh syukur.

Perjuangan dari Proposal ke Realita

Jalan menuju sekretariat ini dimulai jauh hari. Proposal permohonan ruang kantor pertama kali diajukan kepada Wali Kota Malang pada 5 Mei 2021. Selama kurang lebih lima tahun, pengurus dan anggota FKPQ menjalankan roda organisasi secara nomaden, mengandalkan ketulusan dan kesabaran.

Kepala Bidang Bina Spiritual Kesra Setda Kota Malang, Bapak Isnan, dalam sambutannya menegaskan vitalnya peran organisasi ini. “Jumlah lembaga pendidikan Al-Quran di Kota Malang sangat besar, bahkan melampaui jumlah sekolah formal. Kami sangat mengapresiasi upaya pembinaan yang dilakukan FKPQ,” ungkapnya. Ia berharap dengan kantor baru ini, FKPQ dapat semakin istiqomah mengawal umat dan menjaga amanah negara dengan baik.

Gedung Islamic Centre Pemerintah Kota Malang
Lebih Dari Sekadar Kantor: Pusat Peradaban Baru

Keberadaan FKPQ selama ini telah melampaui fungsi biasa. Bersama Kemenag Kota Malang, mereka tak hanya membina metodologi pengajaran Al-Quran untuk santri dan siswa sekolah (TK-SMA), tetapi juga melakukan pemberdayaan ekonomi ustadz-ustadzah, pembinaan marbot masjid, hingga imam sholat.

“Selain fasilitas kantor, adanya kebijakan insentif bagi guru ngaji menjadi amal kebajikan yang manfaatnya dirasakan langsung oleh para penggerak dakwah. Semoga ini membawa keberkahan bagi Kota Malang agar semakin aman dan makmur,” tambah Ahmad Zain Fuad.

Dengan domisili tetap di jantung keislaman kota, Islamic Centre, DPC FKPQ Malang berkomitmen untuk mengoptimalkan pelayanan. Sekretariat ini diharapkan menjadi episentrum baru dalam mencetak generasi qurani yang unggul, serta simpul koordinasi yang lebih solid bagi ribuan guru Al-Quran di seluruh penjuru Kota Malang. Masa nomaden telah usai, kini saatnya berkarya lebih besar dari ‘rumah’ sendiri.

Jumat, 07 November 2025

PARENTING PERGURUAN SURYA BUANA: MENJAGA HATI, MENDIDIK ANAK DENGAN CINTA DAN KESADARAN

Dokumen : dr. Agus bersama pengurus Yayasan BCPM dan Pimpinan Perguruan dan Lembaga Surya Buana Malang 
Malang – Kegiatan Parenting Perguruan Surya Buana Malang yang digelar pada Sabtu (08/11/2025) di VEDC Kota Malang berlangsung khidmat dan penuh manfaat. Acara ini menghadirkan narasumber dr. H. Agus Ali Fauzi, PGD. Pall. Med. (ECU), seorang motivator sekaligus Kepala Instalasi Paliatif dan Bebas Nyeri RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Dengan gaya penyampaian yang hangat dan lugas, dr. Agus memadukan ilmu kesehatan, psikologi, dan pendidikan anak dalam penjelasan-penjelasannya. Hal ini membuat materi mudah dipahami dan terasa sangat dekat dengan realitas yang dihadapi para orang tua sehari-hari.

Menjaga Hati, Kunci Ketenangan Jiwa

Salah satu pokok pembahasan yang paling membekas dalam benak peserta adalah mengenai pentingnya menjaga kebersihan hati dalam kehidupan, terlebih dalam mendidik anak. 

“Sumber segala penyakit adalah kotornya hati. Jika hati dipenuhi hasad, dengki, tidak pandai bersyukur, dan sulit ikhlas menerima ketetapan Allah, maka penyakit-penyakit fisik dapat tumbuh subur. Kanker, diabetes, dan penyakit kronis lain berawal dari hati yang tidak tenang,” tegas dr. Agus.

Menurutnya, hati yang terawat dengan baik akan memengaruhi kestabilan emosi, kesehatan mental, hingga kondisi fisik seseorang. Di sinilah peran orang tua sangat besar: mengelola batin sebelum mendidik anak.

Mendidik Anak dengan Doa dan Ucapan yang Baik

dr. Agus menekankan bahwa anak adalah amanah, bukan objek pelampiasan ambisi orang tua. Karena itu, dalam mendidik anak diperlukan:

  1. Ucapan yang baik, sebab kalimat orang tua adalah doa yang menempel di hati anak.
  2. Sikap adil, karena setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda.
  3. Keikhlasan menerima keadaan, agar orang tua tidak mendidik dengan tekanan, melainkan dengan pendampingan penuh kasih.
Ia mengingatkan bahwa anak, bagaimanapun kondisinya, adalah titipan dari Allah SWT. Tugas orang tua adalah menjaga, membimbing, dan mendoakan sebaik-baiknya, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh tawakal.

Anak Adalah Amanah

Acara ditutup dengan pesan yang menenangkan sekaligus mengajak orang tua untuk kembali merefleksikan perjalanan mereka:
“Anak adalah anugerah. Tugas kita merawat dengan sabar, mendidik dengan cinta, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.”

Para peserta meninggalkan ruangan dengan hati yang lebih lapang, pengetahuan yang bertambah, dan semangat baru untuk menjadi orang tua yang lebih lembut, sadar, dan penuh kasih.

Jumat, 24 Oktober 2025

Profil Ribathul Qur’an Wardatul Ishlah : Menumbuhkan Generasi Qur’ani yang Berkarakter dan Berdaya Guna

Dokumen : Tadabur Alam di Parang Tejo Dau Kabupaten Malang, Sabtu-Ahad, 18-19 Oktober 2025
Ribathul Qur’an Wardatul Ishlah didirikan sebagai rumah bagi para santri yang ingin menapaki kehidupan yang lebih maslahat dan bermakna. Sejak dini, para santri dibimbing untuk menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial tinggi.

Melalui berbagai kegiatan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, para santri belajar menjadi bagian aktif dari lingkungan sekitar. Mereka mengajar anak-anak kampung membaca dan menulis Al-Qur’an, mengenalkan huruf demi huruf, kata demi kata, hingga menumbuhkan kecintaan mendalam terhadap Kalamullah.

Kegiatan kemasyarakatan tidak hanya terbatas bagi anak-anak. Para santriwati turut berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan bersama masyarakat seperti tahlilan, majelis dzikir, dan kegiatan sosial lainnya yang mempererat ukhuwah. Sementara itu, santri putra dibina melalui kegiatan seperti kerja bakti, pengajian umum, dan majelis ta’lim agar terbentuk kepekaan sosial dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.


Menjawab Tantangan Era Hedonisme dan Generasi Instan

Di era modern yang serba cepat dan hedonistik, nilai-nilai spiritual dan perjuangan sering kali terpinggirkan. Generasi muda, termasuk generasi Muslim masa kini (Gen Z), kerap terpengaruh gaya hidup instan dan cenderung menghindari tantangan.

Ribathul Qur’an Wardatul Ishlah hadir untuk menumbuhkan mental tangguh, konsistensi, dan integritas dalam diri para santri. Mereka dididik agar siap menghadapi tantangan zaman dengan jiwa mandiri, disiplin, dan tanggung jawab terhadap amanah yang diemban.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad, Thabrani, dan Daruquthni)


Pembelajaran Real dan Berbasis Pengalaman

Sejak dini, santri diberikan pengalaman nyata dalam pengelolaan lembaga—mulai dari penyusunan kurikulum, perencanaan kegiatan anak-anak, hingga pelaksanaan program kemasyarakatan dan internal lembaga.
Pendekatan ini menanamkan nilai leadership, teamwork, dan problem-solving yang sangat penting di dunia nyata.

Model pembelajaran seperti ini sejalan dengan konsep “experiential learning” yang dikemukakan oleh David A. Kolb (1984), di mana proses belajar akan lebih bermakna ketika peserta didik terlibat langsung dalam pengalaman nyata dan refleksi mendalam.


Pondasi Ilmu dan Akhlak Melalui Kajian Kitab Kuning

Selain kegiatan sosial, para santri juga dibekali dengan ilmu agama melalui kajian kitab kuning, tasawuf, dan ilmu-ilmu Al-Qur’an. Tujuannya bukan hanya untuk memperdalam pengetahuan agama, tetapi juga membentuk akhlak yang mulia dan keseimbangan antara ilmu dan amal.

Sebagaimana dikatakan Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin:

“Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”

Dengan demikian, setiap langkah para santri diarahkan agar kokoh berlandaskan ilmu dan nilai-nilai Qur’ani dalam kehidupan sehari-hari.


Pengukuhan Santri Baru: Meneguhkan Niat dan Komitmen dalam Menuntut Ilmu

Sebagai bagian dari perjalanan pembinaan di Ribathul Qur’an Wardatul Ishlah, pengasuh lembaga, Ahmad Zain Fuad, secara resmi mengukuhkan delapan santri yang telah menempuh masa pembinaan selama tiga bulan (oprek).

Pengukuhan ini dilaksanakan di kawasan Parang Tejo, Dau – Malang, selama dua hari satu malam, dalam suasana penuh kekhidmatan dan kebersamaan. Kegiatan tersebut menjadi penanda berakhirnya masa pembinaan intensif sekaligus awal dari perjalanan baru para santri untuk menjadi insan Qur’ani yang matang secara spiritual, intelektual, dan sosial.

Dalam sambutannya, Ahmad Zain Fuad memberikan pesan mendalam kepada para santri agar senantiasa mengingat tujuan utama mereka datang ke Malang — yaitu menuntut ilmu.

“Jauh-jauh kalian datang ke Malang dengan meninggalkan keluarga dan orang tua, maka hendaknya sungguh-sungguhlah dalam belajar. Jadikan perjuangan ini sebagai jalan untuk membanggakan mereka,” pesan beliau dengan penuh ketulusan.

Namun beliau menegaskan bahwa belajar saja tidak cukup. Ilmu yang diperoleh harus diamalkan dalam kehidupan nyata agar menjadi cahaya yang menerangi diri dan orang lain.

“Di Wardatul Ishlah inilah tempat yang tepat untuk membangun diri sejak dini. Agar kelak kalian siap menjalani kehidupan, baik sebagai pribadi, anggota keluarga, maupun sebagai bagian dari masyarakat,” lanjutnya.

Lebih lanjut, pengasuh mengingatkan pentingnya istiqamah dalam menata niat, menjaga pergaulan, dan mengelola waktu dengan baik. Menurut beliau, waktu adalah amanah yang sangat berharga — apabila diatur dengan bijak, ia akan melahirkan keberkahan dan kemanfaatan dalam hidup.

Pesan ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-‘Ashr (103): 1–3:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”


Penilaian dan Pembinaan Berkelanjutan

Selama masa oprek, para santri menjalani berbagai tahapan pembinaan, mulai dari pendalaman ilmu Al-Qur’an, kegiatan sosial, hingga pelatihan kepemimpinan dan tanggung jawab kelembagaan.

Dalam tahap akhir sebelum pengukuhan, para ustadz dan tokoh masyarakat turut memberikan penilaian terhadap calon santri, mencakup aspek pengetahuan, akhlak, kedisiplinan, kepedulian sosial, serta kemampuan berinteraksi dengan masyarakat.

Hal ini penting karena kelak para santri akan diterjunkan langsung menjadi pendidik dan penggerak di lembaga-lembaga di bawah binaan Ribathul Qur’an Wardatul Ishlah.

Sebagaimana falsafah yang dipegang lembaga ini:

“Mendidik dengan cinta, membimbing dengan ilmu, dan mengabdi dengan ketulusan.”


Penutup

Ribathul Qur’an Wardatul Ishlah bukan sekadar tempat menuntut ilmu, tetapi juga wadah pembentukan karakter dan pengabdian.
Melalui keseimbangan antara ilmu, amal, dan akhlak, lembaga ini berupaya melahirkan generasi Qur’ani yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan sosial.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Mujadilah: 11:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Minggu, 24 Agustus 2025

SMA Surya Buana Gelar SAPAH, Wujudkan Suasana Kekeluargaan dan Resep Membangun Keluarga Bahagia

Dokumen : SAPAH di Rumah Bapak Fadhlur Rahman, Sabtu Pahing (23/08/2025)
Malang — Dalam upaya mempererat tali silaturahmi dan menumbuhkan suasana kekeluargaan di lingkungan sekolah, SMA Surya Buana Malang kembali menggelar kegiatan rutin SAPAH (Sabtu Pahing), pada Sabtu, 23 Agustus 2025. Kegiatan kali ini dilaksanakan di rumah Bapak Fadhlur Rahman dan dihadiri oleh para guru serta karyawan SMA Surya Buana Malang.

SAPAH sendiri merupakan program rutin yang dilaksanakan setiap selapan, sesuai hitungan kalender Jawa, yakni pada setiap Sabtu Pahing. Program ini menjadi sarana untuk mempererat hubungan antar guru, maupun antara guru dan karyawan, agar tercipta suasana kerja yang harmonis, penuh kekeluargaan, dan keberkahan dalam mencari nafkah.

Dalam kesempatan tersebut, Abah Sukri, selaku sesepuh sekaligus tokoh yang dituakan, memberikan ular-ular atau pesan berharga tentang resep membina keluarga bahagia dan mendidik putra-putri menjadi anak yang sholih dan sholihah. Beberapa pesan penting yang disampaikan antara lain:

Mendidik anak dengan pendekatan penuh kasih
Anak perlu diperlakukan layaknya seorang raja, diberikan perhatian, dan diajarkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

Membangun komunikasi yang sehat dalam rumah tangga
Orang tua diingatkan untuk tidak ikut campur berlebihan dalam rumah tangga anak ketika mereka sudah berkeluarga kelak.

Memiliki mimpi dan perencanaan keluarga
Dalam keluarga, khususnya dalam mendidik anak, harus ada perencanaan dan tujuan yang jelas agar tumbuh generasi yang berkualitas.

Menghindari kecemburuan antar anak
Orang tua hendaknya berlaku adil agar tidak timbul rasa iri antara kakak dan adik.

Peran ibu sebagai guru 24 jam
Ibu memiliki peran luar biasa dalam mendidik anak dan membentuk karakter mereka setiap saat.

Pentingnya manajemen keuangan keluarga
Mengatur keuangan dengan bijak adalah salah satu kunci terciptanya keluarga harmonis.

Membangun kedekatan anak dan ayah
Salah satu cara terbaik menjalin kedekatan ini adalah melalui kegiatan bercerita bersama.

Melalui pesan-pesan ini, para guru dan karyawan diharapkan tidak hanya semakin akrab satu sama lain, tetapi juga memperoleh bekal berharga untuk membina keluarga yang harmonis, penuh berkah, dan melahirkan generasi yang berakhlak mulia.

Kegiatan SAPAH bukan hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga sarana saling berbagi ilmu dan pengalaman hidup. Dengan semangat kebersamaan, SMA Surya Buana Malang berharap suasana kerja di lingkungan sekolah semakin erat, layaknya satu keluarga besar.

Senin, 18 Agustus 2025

Pentingnya Membersamai Anak dan Keluarga di Hari Libur

Dokumen: adek Nuha Bersama Alan, pemandian Kraton Sidoarjo Jawa Timur, Senin (18/08/2025).
Senin, 18 Agustus 2025, bertepatan dengan peringatan HUT RI ke-80, menjadi momen penuh kebahagiaan bagi anak-anak. Masa liburan selalu dinanti setelah hari-hari panjang di bangku sekolah. Begitu pula dengan orang tua—yang menunggu jeda sejenak dari rutinitas kerja, untuk bisa bernapas lega dan menikmati kebersamaan.

Banyak cara yang bisa dilakukan keluarga untuk mengisi waktu libur. Namun, di antara semua pilihan kegiatan, membersamai anak dan keluarga adalah yang paling berharga. Karena sejatinya, bekerja bukan semata-mata untuk mencari nafkah. Lebih dari itu, setiap tetes keringat adalah untuk keluarga—untuk pendidikan anak, makanan di meja, perawatan rumah, kesehatan, dan segala kebutuhan yang menyokong kehidupan.

Namun keluarga tidak hanya diukur dari seberapa banyak uang yang dihasilkan. Lebih penting adalah sejauh mana hasil kerja itu menghadirkan keberkahan, kebahagiaan, serta kasih sayang di rumah. Anak-anak tidak hanya membutuhkan materi, tetapi juga perhatian, waktu, dan kehadiran orang tuanya.

Bersama mereka di masa liburan bukanlah sekadar bersenang-senang atau menghabiskan waktu tanpa arah. Justru di sanalah terjalin ikatan batin, terukir kenangan indah, tumbuh perhatian, serta terselip edukasi yang akan membekas hingga mereka dewasa.

Liburan menjadi saksi betapa besar cinta orang tua kepada anak-anaknya. Dan bagi anak-anak, kenangan sederhana bersama keluarga akan menjadi harta yang tak ternilai dalam perjalanan hidup mereka kelak.

Sabtu, 09 Agustus 2025

Sejarah Awal Perayaan Lomba-Lomba HUT RI

Kegiatan Lomba HUT RI Ke-80 19/01 Tunggulwulung Kota Malang
Kemeriahan kemerdekaan RI setiap tahun diisi dengan beragam kegiatan, lomba-lomba, jalan sehat, dan berbagai kreatifitas untuk menghidupkan kembali semangat cinta tanah air.

Dalam sejarahnya,Tradisi lomba dan berbagai hiburan pada momen 17-an mulai populer pada era 1950-an, sekitar lima tahun setelah Indonesia merdeka.

Sejarawan JJ Rizal mencatat bahwa lomba-lomba dan berbagai kegiatan tersebut tidak sekadar hiburan rakyat, tapi juga menjadi simbol penghormatan atas perjuangan para pahlawan yang telah merebut kemerdekaan dari penjajah.

Dengan semangat tersebut, warga dari berbagai lapisan masyarakat ikut serta dalam perlombaan yang menekankan nilai persatuan, kerja sama, dan ketangguhan, serta nilai-nilai yang juga diperjuangkan selama masa penjajahan.

Jumat, 18 Juli 2025

Premium : Pemberdayaan Ekonomi dan Bina Rohani Umat Kemenag Kota Malang bersama DPC FKPQ Kota Malang

Dokumen: Pengurus DPC FKPQ Kota Shilaturohim bersama Kankemenag Kota Malang di Hall Mini Kantor Kemenag 
Sholaturohim bersama Kepala Kementrian Agama (Kankemenag) Kota Malang Gus Achmad Shampton berlangsung gayeng dan santai pada Jum'ah (17/07/2025) di Mini Hall Kemenag Kota Malang.

Pembahasan pertama dalam sholaturohim pemberdayaan ekonomi guru Al-Qur'an dan Bina Rohani Umat. Gus Shampton sebagai Kankemenag selama ini ingin sekali membantu guru Al-Qur'an agar bisa mandiri secara ekonomi, tidak tergantung pada bantuan orang lain, baik dari pemerintah maupun donatur.

Guru Al-Qur'an selama ini kurang mendapatkan perhatian, khususnya dalam bidang pemberdayaan ekonomi. Hal ini sudah dapat dimaklumi karena guru Al-Qur'an sangat sibuk dan waktu luangnya tidak terlalu banyak.

"Kondisi semacam ini menjadi perhatian khusus, jabatan yang diemban semoga dapat memberikan manfaat dan perubahan bagi pejuang Al-Qur'an (Guru Ngaji)", ungkap Gus Shampton.

Dalam mewujudkan rasa keprihatinan tersebut Kankemenag berharap ada terobosan baru peningkatan perekonomian dan Pembinaan Ruhani Guru Ngaji dengan Program Premium bersama Dewan Pengurus Cabang FKPQ Kota Malang.

Melalui program ini diharapkan mampu dilaksanakan dengan amanah, mengingat dana yang digunakan merupakan dana zakat ASN. Pemanfaatan Dana Zakat jika di realisasikan pada yang berhak mendapatkan maka keberkahanya akan dirasakan oleh orang yang mengeluarkan zakat.

"Saya berharap agar apa yang menjadi amanah dari kawan-kawana di Kemenag Kota Malang bisa direalisasikan, yang nantinya bantuan diberikan secara bertahap dan dilengkapi dengan instrumen penilaian progres pengembangan usaha yang di bantu oleh Premium" tegas Gus Shampton.

Keberadaan Forum Komunikasi Pendidikan Al-Qur'an (FKPQ) agar bisa dirasakan manfaat dan maslahatnya sudah seharusnya tanggal dan bisa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk peningkatan kesejahteraan guru Al-Qur'an.

Ad Placement