Jumat, 05 Juni 2020
HIDUPKAN MALAMMU
Ayyuhal walad #6
Wahai anakku,
Berapa lama engkau menghidupkan malam (tidak tidur) untuk mengulang mempelajari
ilmu, membaca (Muthola’ah) kitab-kitab, dan mengharamkan (menahan) kenginan dirimu
untuk tidur dimalam hari? Saya tidak mengetahui apa tujuan yang engkau lakukan
dimalam hari itu.
Jika engkau menghidupkan malammu itu untuk memperoleh limpahan harta,
atau untuk memperoleh derajat tinggi masalah duniawi serta untuk unggul-unggulan
dengan teman-temanmu, maka sungguh merugi engkau, sungguh merugi engkau.
Jika engkau menghidupkan malam-malamu itu dengan tujuan untuk
menghidupkan syari’at Nabi Muhammad saw., membersihkan (memperbagus) Akhlaq-budimu
dan memerangi nafsul ammarah, nafsu yang selalu mengajak berbuat
kejelekan. Maka beruntunglah dirimu dan beruntunglah dirimu.
Dan tepatlah apa yang dikatakan oleh seorang ulama dalam sya’ir
berikut :
“Tidak tidurnya mata untuk mencari selain keridloan-Mu adalah sia-sia,
Menangisnya mata karena selain kehilangan-Mu adalah tidak berguna”.
Kamis, 04 Juni 2020
BUAH DARI AMAL #5
Imam Al-Ghazali memberikan nasihat kepaa santri beliau,
Wahai anakku,
Selama engkau tidak beramal, maka engakau
tidak akan mendapatkan pahala..
Dikisahkan, ada seorang laki-laki dari bani Israil yang mengabdi
kepada Allah swt. Selama 70 tahun. Maka Allah swt. Mengutus malaikat untuk
mengabarkan amal ibadah,
Malaikat : “wahai ‘abid, Sesungguhnya amal ibadahmu itu tidak mampu memasukkanmu
ke dalam surga-Nya”.
‘Abid (ahli ibadah) menjawab :”
kami diciptakan untuk beribadah kepada Allah swt., maka cukuplah bagi kami
beribadah kepada Allah swt.
Rasulullah saw. bersabda : “ Hitunglah (intropeksilah) kalian sebelum kalian
dihitung, dan timbanglah amal kalian sebelum kalian ditimbang (saat hari
kiamat)”.
Sahabat ‘Ali bin Abi Tholib berkata : “ Barangsiapa menyangka bahwa
untuk mencapai keberhasilan tanpa bersungguh-sungguh meraihnya maka itu adalah
lamunan dan barangsiapa yang menyangka dengan berbekal kesungguhan (usaha) saja
(tanpa mengharap Rahmat Allah swt.) untuk mencapai keberhasilan adalah sebuah
kesombongan”.
Hassan Al-Bashri berkata : ”seseorang yang mencari surga dengan tanpa
amal (usaha) maka itu adalah bagian dari perbuatan dosa”, belau melanjutnya dan
berkata : “tanda seseorang mencapai maqam hakikat ialah, ia tidak melihat nilai
pahala dari sebuah amal dengan tanpa meninggalkan amal”.
Rasulullah saw. Bersabda :” orang yang cerdas adalah orang yang bisa
mengalahkan hawa nafsunya dan beramal untuk bekal setelah wafatnya dan orang
yang Bodoh adalah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan selalu
berangan-angan mendapat Rahmat Allah swt dengan tanpa beramal”.
Selasa, 02 Juni 2020
DALIL PENTINGNYA AMAL #4
(Masih) Ayyuhal Walad #4
Dan apa yang akan engkau katakana dalam
hadits berikut :
“Islam dibangun atas lima perkara : bersaksi
bahwa tiada Tuhan selain Allah swwt. Dan sesungguhnya Nabi Muhammad itu utusan Allah, mendirikan
Sholat, menuaikan zakat, puasa Ramadlan, dan haji ke baitullah bagi yang
mampu”.
Dan Iman adalah mengucapkan dengan lisan,
membenarkan dalam hati serta mengamalkan dengan anggota badan.
Dari pengertian diatas, menunjukkan dalam
melaksanakan tuntutanSya’riat tidak cukup dengan memahaminya sebagaisebuah ilmu,
tapi merupakan sebuah amaliyah dan perintah untuk dilaksanakan dengan anggota
badan.
Dalil menunjukkan pentingnya beramal sangat
banyak, bahkan tidak terhitung.
Walaupun seorang hamba bisa masuk surga karena
Fadhol (Karunia) dan kemulyaan dari Allah swt, akan tetapi karunia itu
datangnya setelah seorang hamba tersebut sudah melakukan keta’atan dan ibadah
kepada Allah swt. Karena sesungguhnya, “Rahmat Allah itu dekatdengan
orang yang berbuat baik”.
Minggu, 31 Mei 2020
PENTINGNYA ILMU YANG DIAMALKAN #4
(Masih) Ayyuhal Walad
#4
Imam Al-Ghazali melanjutkan
nasihat beliau dengan syair yang berbahasa Persi kemudian di terjemahkan dalam Bahasa
arab oleh syaikh Muhammad Amin Al-Kurdy yang artinya,
“Jika engkau menakar
2000 kati arak (1 kati sama dengan 600 gr), maka hal itu tidak akan memabukkan jika
arak itu tidak diminum”.
Permisalan itu sama
saja dengan engkau membaca (mempelajari) sebuah ilmu selama 100 tahun, dan
mengumpulkan 1000 (seribu) kitab, engkau tidak akan mendapatkan Rahmat Allah
swt. Dari ilmu-ilmu yang engkau pelajari tanpa engkau mengamalkanya.
Allah swt berfirman
dalam beberapa Ayat Al-Qur’an, ;
Al-Qur’an
Surat al-a’raf ayat 39 :
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ
إِلَّا مَا سَعَىٰ
Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa
yang telah diusahakannya,
dalam surat Al-Kahfi ayat 110:
فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟
لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka
hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh..”
Dalam surat at-taubah
ayat 82 :
جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟
يَكْسِبُونَ
“sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan”
Surat Al-Kahfi ayat 107-108 :
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا. خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا
حِوَلا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal
saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di
dalamnya, mereka tidak ingin berpindah darinya”.
Surat Maryam ayat 59-60
فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟
ٱلشَّهَوَٰتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti
(yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka
mereka kelak akan menemui kesesatan”. (59)
إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَدْخُلُونَ
ٱلْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْـًٔا
“Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan
beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan)
sedikitpun”, (60)
Sabtu, 30 Mei 2020
SAHABAT SEJATI
ILMU TANPA AMAL #4
Imam Ghazali Berpesan kepada santri beliau;
Wahai anakku, janganlah engkau menjadi orang yang merugi dan sunyi dari beramal
(bathin). Sesungguhnya ilmu yang tidak diamalkan tidak akan membawa manfaat
kelak di hari kiamat.
Sebagaimana ada seorang laki-laki (pemuda) yang ada ditengah alas (hutan)
dengan membawa sepuluh jenis pedang dari hindia serta jenis pedang lainya,
pemuda tersebut juga seorang yang pemberani dan ahli dalam peperangan.
Tiba-tiba ditengah hutan tersebut, ada seekor macan yang besar dan menakutkan
menyerang pemuda itu.
Apa yang engkau pikirkan?
Apakah pedang itu bisa menolak atau melawan macan itu jika tidak di gunakan
dan di pukulkan ke macan tersebut ?
sudah menjadi maklum, Sesungguhnya pedang itu tidak akan bisa menolak
macan kecuali jika digerakkan dan di pukulkan kearah macan.
Begitupula seandainya ada seorang laki-laki yang membaca dan mempelajari
seribu permasalahan Ilmiah, dan apa yang dia baca dan pelajari itu tidak
diamalkan, maka tiada manfaatnya kecuali dengan diamalkan.
Atau contoh yang lain, ada seorang laki-laki yang sakit panas dan penyakit
kuning, salah satu obat yang bisa menyembuhkanya adalah dengan obat sukanjabin
(Minuman dari madu) dan Kasykabi (minuman dari gandum sya’ir), maka
kedua obat ini tidak akan mampu menyembuhkan penyakit itu kecuali jika obat
tersebut diminum. (azf)
(bersambung)
Ayyuhal walad #4Jumat, 29 Mei 2020
AMAL YANG MENEMANI DI ALAM KUBUR #3
(masih) Ayyuhal Walad #3
Imam Ghazali berpesan kepada santri beliau;
Dikisahkan, ada seseorang yang bermimpi bertemu dengan Syaikh
Imam Junaid Qoddasallahu Sirrohu setelah beliau wafat. Kemudian orang
tersebut bertanya kepada imam Junaid; “wahai Abal Qosim (sebutan untuk Imam
Junaid) bagaimana kabarmu?, Imam Junaid Menjawab” (( telah sirna semua Ibarat,
telah hilang semua isyarat, dan tiada manfaat semua amal kecuali hanya sholat 2
(dua ) rakaat di tengah malam))”.
*
Yang dimaksud dalam Riwayat tersebut adalah, bahwa apa yang beliau
(imam Junaid) lakukan selama hidup seakan tiada bernilai dihadapan Allah swt.,
justru saat beliau di alam kubur amal yang dinilai oleh Allah swt dan mampu
menemani beliau adalah ibadah dua rakaat ditengah malam, karena beliau
melakukan ini tanpa pamrih apapun terhadap makhluq-Nya, beliau ikhlas melaksanakan
ibaddah sunnah 2 rakaat itu ditengah malam hanya karena Allah swt.
Catatan (Biografi Syaikh Imam Junaid):
Nama Lengkap Syaikh Junaid adalah Al-Junaid bin Muhammad bin
al-Junaid Abu Qasim al-Qawariri al-Khazzaz al-Nahawandî al-Baghdadi al-Syafi'i,
atau lebih dikenal dengan Al-Junaid al-Baghdadî.
Syaikah Junaid Al-Baghdadi merupakan putra Muhammad,
penjual kaca. Ia berasal dari Nahawan, lahir dan tumbuh di Irak. Junaid seorang
ahli fikih dan berfatwa berdasarkan mazhab fikih Abu Tsaur, salah seorang
sahabat Imam Syafi’i. Junaid berguru kepada As-Sarri As-Saqthi, pamannya
sendiri, Al-Harits Al-Muhasibi, dan Muhammad bin Ali Al-Qashshab.
Syiakh Junaid adalah salah seorang imam besar dan salah
seorang imam terkemuka dalam bidang tasawuf. Ia juga memiliki sejumlah karamah
luar biasa. Ucapannya diterima banyak kalangan. Ia wafat pada Sabtu, 297 H.
Makamnya terkenal di Baghdad dan diziarahi oleh masyarakat umum dan orang-orang
istimewa.
Syekh
Ibrahim Al-Laqqani dalam Jauharatut Tauhid menyebut Imam Malik dan Imam Junaid
Al-Baghdadi sebagai pembimbing dan panutan umat Islam.
ومالك وسائر الأئمة
وكذا أبو القاسم هداة الأمة
Artinya,
“Imam
Malik RA dan seluruh imam, begitu juga Abul Qasim adalah pembimbing umat,”
(Lihat Syekh Ibrahim Al-Laqqani, Jauharatut Tauhid
pada Hamisy Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail
Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 89).
Syekh M
Nawawi Banten juga menyebutkan sejak awal Imam Junaid Al-Baghdadi sebagai
panutan umat dari sisi tasawuf. Menurutnya, Imam Junaid Al-Baghdadi layak
menjadi pembimbing umat dari sisi tasawuf karena kapasitas ilmu dan amalnya.
ويجب على من ذكر أن
يقلد في علم التصوف إماما من أئمة التصوف كالجنيد وهو الإمام سعيد بن محمد أبو القاسم
الجنيد سيد الصوفية علما وعملا رضي الله عنه والحاصل أن الإمام الشافعي ونحوه هداة
الأمة في الفروع والإمام الأشعري ونحوه هداة الأمة في الأصول والجنيد ونحوه هداة الأمة
في التصوف فجزاهم الله خيرا ونفعنا بهم آمين
Artinya,
“Ulama yang disebutkan itu wajib diikuti sebagaimam
perihal ilmu tasawuf seperti Imam Junaid, yaitu Sa’id bin Muhammad, Abul Qasim
Al-Junaid, pemimpin para sufi dari sisi ilmu dan amal. Walhasil, Imam Syafi’i
dan fuqaha lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang fiqih, Imam Asy’ari dan
mutakallimin lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang aqidah, dan Imam
Junaid dan sufi lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang tasawuf. Semoga
Allah membalas kebaikan mereka dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kita
atas ilmu dan amal mereka. Amiiin,”
(Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zein,
[Bandung, Al-Maarif: tanpa catatan tahun], halaman 7).
Pandangan
serupa juga dikemukakan oleh Syekh M Ibrahim Al-Baijuri. Menurutnya, jalan terang
dan keistiqamahan Imam Junaid Al-Baghdadi di jalan hidayah patut menjadi
teladan. Ilmu dan amalnya dalam bidang tasawuf membuat Imam Junaid layak
menjadi pedoman.
وقوله كذا أبو القاسم
كذا خبر مقدم وأبو القاسم مبتدأ مؤخر أي مثل من ذكر في الهداية واستقامة الطريق أبو
القاسم الجنيد سيد الطائفة علما وعملا ولعل المصنف رأى شهرته بهذه الكنية ولو قال جنيدهم
أيضا هداة الأمة لكان أوضح
Artinya,
“Perihal
perkataan ‘Demikian juga Abul Qasim’, ‘demikian juga’ adalah khabar muqaddam
atau predikat yang didahulukan. ‘Abul Qasim’ adalah mubtada muakhkhar atau
subjek yang diakhirkan. Maksudnya, seperti ulama yang sudah tersebut perihal
hidayah dan keistiqamahan jalan adalah Abul Qasim, Junaid, pemimpin kelompok
sufi baik dari sisi ilmu maupun amal. Bisa jadi penulis memandang popularitas
Junaid melalui gelarnya. Kalau penulis mengatakan, ‘Junaid juga pembimbing
umat’, tentu lebih klir,”
Kamis, 28 Mei 2020
WAJIBNYA MENTAATI PEMIMPIN DISAAT WABAH CORONA
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ
يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا
شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى الله
عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً
قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ يَاأَيُّهاَ
الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِوَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ
الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ
مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ
بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
أَمَّا بَعْدُ؛
Jamaah
Jumat Rahimakumullah
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah,
atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Nikmat iman, nikmat Islam
dan nikmat dapat membaca firman-firman-Nya yang terangkum dalam al-Quranul
Karim. Itulah nikmat terbesar dalam hidup ini. Nikmat paling istimewa karena
tanpanya, nikmat yang lain tidak akan berguna.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Juga kepada para shahabat, tabi’in
dan orang-orang yang teguh mengikuti sunah Rasulullah sampai hari Kiamat.
Rasulullah senantiasa menasihatkan taqwa
dalam setiap khutbahnya. Maka, khatib pun akan mengikuti sunah Beliau dengan
menasehatkan wasiat serupa. Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada
Allah. Berusaha menjalankan perintah-perintah-Nya dengan penuh cinta dan
tidak asal gugur kewajiban semata. Berusaha meninggalkan larangan-Nya,
juga dengan penuh cinta meski sebenarnya nafsu sangat menginginkannya.
Jamaah
Jumat Rahimakumullah
Akhir-akhir ini, di saat musibah sedang
melanda negeri ini banyak sekali permasalahan yg dihadapi dan membutuhkan solusi
agar semua berjalan dengan aman dan tentram. Mulai dari disekitar lingkungan
kita berada, sampai negeri ini yang notabene adalah pemerintah sebagai
penanggungjawab agar masyarakat tetap aman dalam beraktifitas. Menuju bangsa Indonesia
keluar dari ujian dengan penuh kemenangan.
Ujian yg dihadapi negeri saat ini adalah mengahadapi
bahaya Corona, disaat pemerintah berusaha memberikan ketentraman pada semua warga
negara maka kita sebagai Rakyat harus senantiasa mendukung segala kebijakan
yang sudah di programkan oleh pemerinah (presiden), sebagai wujud ketaatan kita
kepada pemimpin kita, sebagaimana firman Allah swt.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا
الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
"Hai
orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil
amri di antara kamu." (QS. An Nisa' [4]: 59)
Dalam ayat ini Allah menjadikan ketaatan kepada pemimpin pada
urutan ketiga setelah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Namun, untuk pemimpin
di sini tidaklah datang dengan lafazh perintah "taatilah" karena
ketaatan kepada pemimpin merupakan ikutan (tâbi') dari ketaatan kepada Allah
dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu, apabila seorang
pemimpin memerintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah swt.
Adapun jika mereka memerintahkan kita untuk bermaksiat kepada
Allah, maka kita dilarang untuk mendengar dan menaati mereka. Karena Rabb
pemimpin kita dan Rabb kita (rakyat) adalah satu yaitu Allah Ta'ala oleh karena
itu wajib taat kepada-Nya.
Apabila mereka memerintahkan kepada maksiat maka tidak ada
kewajiban mendengar dan taat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda,
لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ
“Tidak ada kewajiban taat dalam rangka bermaksiat (kepada
Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma'ruf (bukan maksiat)." (HR.
Bukhari no. 7257)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,
عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ
، فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ
فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
"Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara
yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila
diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan
taat." (HR. Bukhari no. 7144)
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Apa yang terjadi
saat ini, keadaan yang melanda negeri dan negeri lain di bumi ini membutuhkan
kebersamaan dan bahu membahu membangun negeri ini walau masih dalam keadaan yg
tidak menentu, apa yg dilakukan pemerintah sama sekali tidak ada unsur bermaksiat
kepada Allah swt. Terutama dalam pemecahan solusi yg terjadi di negeri ini. Jika
tidak ada ketaatan pada pemimpin, maka yg terjadi adalah sebuah kekacauan, bisa jadi akan muncul pertumpahan
darah dan terjadi korban pada sesama kaum muslimin. Jangan sampai ujian yg melanda
negeri ini dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang ingin negeri ini kacau balau.
Ingatlah bahwa darah kaum muslimin
itu lebih mulia daripada hancurnya dunia ini. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda,
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ
قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ
"Hancurnya dunia
ini lebih ringan (dosanya) daripada terbunuhnya seorang muslim." (HR. Tirmidzi)
Kalaupun ada orang-orang yang
menyerukan melawan pemimpin (presiden), maka berilah nasehat, jika ia
menganggap pemimpin bangsa ini dholim, maka berilah ia nasiehat untuk bersabar,
sebagaimana yang disampaikan Sahabat 'Amr bin 'Ash berkata kepada putranya,
Abdullah:
عن عمرو بن العاص رضي الله عنه أنه قال
لابنه عبد الله: يا بني! سلطان عادل خير من مطر وابل، وأسد حطوم خير من سلطان ظلوم،
وسلطان غشوم ظلوم خير من فتنة تدوم
“Wahai anakku, pemimpin yang adil
itu lebih baik dibandingkan dengan hujan yang deras, macan yang buas lebih baik
daripada pemimpin yang zalim sedangkan pemimpin yang sangat zalim itu masih
lebih baik dibandingkan dengan fitnah yang permanen (dikarenakan tidak ada
pemimpin sama sekali).”
Jama’ah sholat jama’ah yg di Rahmati
Allah swt.
Dalam khutbah yang singkat ini, mari kita
Bersama-sama berupaya menjaga ukhuwah wathoniyah dan Islamiyah. Dengan cara
mentaati pemimpin kita. Disaat kondisi yang tidak menentu, maka wajib bagi kita
mentaati satu komando. Kalaupun ada kebijakan yang (menurut kita) tidak tepat
sasaran, maka itu harus dievaluasi, dengan kondisi saat ini, apa saja bisa
terjadi, semua memiliki kepentingan, namun wajib bagi kita sebagai rakyat untuk
menjaga marwah pemimpin kita, dan menjaga lingkungan kita agar tetap aman dan
tentram.
وَالْعَصْرِ
﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ
وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ,
وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ للهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ
الرَّحِيْم
Khutbah Kedua
الْحَمْدَ لله الَّذِي أَنَارَ قُلُوْبَ
عِبَادِهِ الْمُتَّقِيْنَ بِنُوْرِ كِتَابِهِ الْمُبِيْنِ وَجَعَلَ الْقُرْآنَ
شِفَاءً لِمَا فِي الصُّدُوْرِ وَهُدَى وَرَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالصَّلاَةُ
وَالسَّلاَمُ عَلَي خَاتِمِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِ نَا
مُحَمَّدِ النَّبيِّ الْعَرَبِيِّ اْلأُمِّيِّنَ اَلَّذِي فَتَحَ اللهُبِهِ
أَعْيُناً عُمْياً وَأَذَاناً صُمًّا وَقُلُوْبَاً غَلْفاً وَأَخْرَجَبِهِ
النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَي النُّوْرِ. صَلاَةً وَسَلاَماً دَائِمَيْنِ
عَلَيْهِإِليَ يَوْمِ الْبَعْثِ وَ النُّشُوْرِ وَعَلَىآلِهِ الطَّيِّبِيْنَ
اْلأَطْهَرِ وَأَصْحَابِهِ اْلأَبْرَارِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإحْسَانٍ إِلَي
يَوْمِ الدِّيْنَ
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ
عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواصَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمً
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ
بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِوَمَنْ تَبِعَهُ بِإحْسَانٍ
إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ
وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ.
اَللَّهُمَّاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ
أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.اَللَّهُمَّ لاَتُزِغْ
قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ
أَنتَ الْوَهَّابُ.اَللَّهُمَّاغْفِر لَناَ وَلِوَالِديْناَ وَلِلمُؤمِنِينَ يَومَ
يَقُومُ الحِسَابُ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ
وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّبُ الرَّحِيْمِ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي
الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ
عِبَادَ الله،إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ
بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ
الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ
وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ
Oleh: Ust. Ahmad Zain Fuad/Khutbah Jumat








